Bertengkar

 

Seberapa sering Anda bertengkar dengan pasangan Anda? Kalau saya, mungkin hampir setiap hari selalu bertengkar.Mulai dari hal yang remeh-temeh, seperti terlalu keras memanggil, nonton sepakbola, hingga hal yang lebih serius, seperti bertabrakan cara pandang.

 

Lucu memang, tapi hal-hal seperti ini lah yang memang membuat saya dan istri kerap beradu mulut, beradu ego, diam mematung, hingga berpisah kamar dalam waktu sebentar.

 

Melelahkan? Pastinya iya. Tapi, saya tidak pernah berhenti bersyukur, karena masih bisa bertengkar dengan istri saya.

 

Bagi saya, bertengkar adalah salah satu momen yang tepat untuk merefleksi kembali diri saya sendiri. Sesaat setelah bertengkar, biasanya saya langsung terdiam dan berpikir ulang mengenai tindakan-tindakan saya kepada istri.

 

Saya akui, terkadang saat bertengkar  tersembunyi sebuah ego yang mendesak-desak untuk membenarkan diri sendiri dan menyalahkan istri. Saya sendiri tidak ingin berusaha menahan ego itu.

 

Saya membiarkannya agar ego itu memicu saya untuk terus-terusan berpikir ulang. Apakah saya benar, apakah dia salah, apakah ucapan saya kasar. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu memang selalu berkecamuk dalam batin saya, usai bertengkar.

 

Jujur saya menikmatinya, sebab setelah lama berpikir, saya mulai menyadari pertengkaran demi pertengkaran membantu saya untuk bisa mengendalikan ego lebih baik. Bukan hanya demi saya saja, tapi juga buat pasangan saya.

 

Saya pernah nonton film Painted Veil. Di film itu, si tokoh pria marah besar ketika mengetahui sang istri berselingkuh. Guna menghukum istrinya itu, ia pun menyiksa istrinya dengan pindah ke China yang tengah terjangkit wabah kolera.

 

Di tengah kemarahan suami, dan kebencian sang istri yang merasa dihukum dengan tidak wajar oleh sang suami, mereka justru berhasil menemukan makna cinta yang sesungguhnya. Semuanya itu justru berhasil ketika mereka memikirkan ulang semua hal yang membawa mereka kepada kemarahan.

 

Jadi, di saat bertengkar saran saya nikmati lah, dan jangan biarkan diri Anda terbakar dengan kemarahan, tapi cobalah untuk berpikir ulang tentang diri Anda dan pasangan Anda.

 

 

 

 

 

 

Berita di atas Motor

“Way, kok belok ke kanan, ke kiri dong.” Mendengar tegoran tersebut, seketika saya langsung tersadar dari lamunan dan langsung membelokkan laju motor ke arah kiri. “Lupa yah, jalannya atau gimana,” tanya istri saya melanjutkan keheranannya.

 

Tak mau berbohong, akhirnya saya menjawab keheranan dia. Sebab, kalau tidak dijawab juga, mungkin dia akan terus merepet-repet terus. “Enggak, tadi lagi ngelamun mikirin berita aja,” kata saya jujur.


Rupanya, jawaban ini bukan jawaban yang terbaik dari saya. Mendengarnya, ia malah marah-marah lagi.

 

“Ngapain sih kamu mikirin kayak gitu di motor. Bikin celaka tahu, jangan lagi-lagi yah,” ucap istri saya dengan sangat cepat, mungkin mengalahkan kecepatan motor saya yang makin lama makin butut itu.

 

“Iya-iya, enggak lagi deh, tapi gimana udah kebiasaan dari dulu,” kata saya berusaha membela diri.

 

Sebenarnya, kebiasaan ini bukan milik saya pribadi. Mungkin, seluruh wartawan yang ada, sering melakukan kebiasaan ini. Di kejar-kejar deadline, membuat mereka memikirkan berita kapan saja dan di mana saja. Di bus, motor, atau mobil pribadi. Setiap saat dan setiap waktu yang dipikirkan adalah bagaimana menulis berita yang layak naik cetak.

 

Kebiasaan ini, saya duga, sudah ada sejak menjadi wartawan. Saya sendiri sudah didoktrin untuk melakukan hal seperti ini. Ketika di jalan mencari berita, menuju kantor, hingga pulang harus tetap memikirkan bagaimana mencari berita, menemukan gaya penulisan, mencari sudut yang menarik, hingga bagaimana menulisnya.

 

“Wartawan yang baik itu adalah wartawan yang mulai memikirkan bagaimana menulis beritanya sebaik mungkin,ketika mencari berita, sebelum datang ke kantor juga waktu pulang buat nyari berita besok. Kalau bisa di atas motor semuanya udah langsung dipikirin,” kata bos saya di kantor dulu, Zaenudin HM.

 

Disadari atau tidak ucapan itu berpengaruh banyak kepada saya. Pikiran untuk menulis sebaik mungkin sudah langsung muncul ketika saya menerima berita. Jika berita yang didapat sama sekali kurang menarik, otak pun semakin keras diputar.

 

“Waduh, gimana caranya nih biar bisa masuk ke koran,” pikir saya dalam hati setiap kali mendapatkan berita yang menurut saya kurang menarik.

 

Bagi wartawan, berita yang masuk ke koran, merupakan kebanggaan tersendiri. Gagal mendapatkan berita menarik akan jadi kekecewaan tersendiri. Atau bisa dikatakan kalah besar dengan wartawan lain yang mampu menaikkan berita mereka ke halaman koran.

 

Keengganan untuk kalah tersebut, membuat wartawan, mungkin wartawan-wartawan lainnya berusaha keras mengolah berita agar mampu naik cetak. Saking butuh berpikir keras, di atas motor pun, saya berusaha untuk mencari angle-angle yang tepat.

 

Hingga saat ini, saya cukup beruntung, tidak mengalami kejadian aneh-aneh saat melakukan hal ini. Namun, saat ini, setelah mempunyai keluarga, saya kayaknya harus berpikir ulang akan kebiasaan ini. Saya mungkin masih boleh memikirkan berita, tapi jangan di atas motor.

 

“Ingat Keluarga di Rumah Menunggu Anda,” slogan polisi itu pun akhirnya melintas di benak saya.

 

 

 

 

Film Adaptasi

Istri saya marah-marah ketika nonton film P.S I Love U. Dia bilang filmnya benar-benar enggak sama dengan buku. Nah lho?

 

“Bukan hanya enggak sama, tapi banyak isi cerita yang menurut gue sangat emosional justru enggak ada di film,” katanya sambil melotot ke arah saya.

 

Kemarahannya belum usai setelah film selesai. Lagi-lagi ia bilang semua perasaan yang ia dapat saat membaca buku, sama sekali tidak ia rasakan ketika nonton film yang diperani Gerrard Butler dan Hillary Swank itu.

 

“Pokoknya, kamu harus beli DVD yang asli, enggak yang bajakan. Kali aja perasaannya bisa beda,” lagi-lagi kata istri saya seolah mencari kambing hitam kekesalannya.

 

Sebenarnya, perasaan yang sama pernah saya alami juga. Saya benar-benar kecewa ketika menonton film Kite Runner. Sebelum menonton, ekspektasi saya film ini cukup tinggi. Sebab, teman saya dan IMDB mereview positif film ini.

 

Hasilnya, setelah menonton, saya benar-benar kecewa. Sedikit sebenarnya, tapi ada satu hal yang membuat saya sedikit cemberut gara-gara film ini.

 

Yup, saya tidak mendapatkan pengalaman-pengalaman sensasional saat membaca buku. Film yang digarap Marc Foster ini tidak berhasil mengantarkan perasaan yang sama saat saya membaca buku Khaled Hoseini ini.

 

“Iya lah mas, jangan disamain buku dengan film,” kata Novi, teman saya di kantor saat berdiskusi masalah ini.

 

Apa yang dikatakan Novi memang benar. Sedari dulu hingga sekarang, film dan buku adalah media yang berbeda. Film tidak bisa membeberkan semua isi cerita yang ada di buku. Contohnya, Kite Runner, yang benar-benar memotong habis bagian yang teramat penting di buku tersebut.

 

Sebenarnya, inti keberatan saya, istri dan mungkin orang-orang di luar sana, bukan isi ceritanya. Tapi, setidaknya kita ingin mendapatkan sensasi-sensasi yang sama saat membaca buku.

 

Hal ini lah yang sangat sulit diberikan oleh film adaptasi. Pengalaman setiap orang membaca sebuah buku cerita tentu berbeda satu sama lainnya.

 

Begitu juga interpretasi dan sensasi yang dirasakan oleh sutradara dan script writer film adaptasi. Mereka tentu saja mempunyai pemahaman yang sangat berbeda dengan pembaca buku.

 

Hal ini lah yang dilakukan Salman Aristo, Ginatri S Noer dan Hanung Bramantyo saat menggarap film Ayat Ayat Cinta. Mereka punya interpretasi sendiri menerjemahkan pengalaman mereka akan Ayat Ayat Cinta ke pita seluloid.

 

Salah kah tindakan mereka? Enggak juga, sebab secara teori, saat sebuah buku telah dihasilkan, maka penulis telah mati. Buku adalah milik siapa saja dan siapa saja bebas menginterpretasikan buku tersebut. Termasuk para sutradara dan penulis scenario.

 

“Jadi kita enggak bisa mengharapkan pengalaman-pengalaman personal itu bisa kita rasakan dalam sebuah film dong,” tanya Megi kepada saya.

 

Mungkin iya, sebab film adaptasi tidak memberikan ruang bagi penonton untuk menginterpretasikan kembali jalan cerita. Sebab, semua orang sudah mempunyai interpretasi masing-masing. Dari sini lah, perbandingan-perbandingan tersebut tidak akan pernah usai.

 

Jalan terbaik bagi saya mungkin adalah menonton film adaptasi yang memang belum pernah saya baca bukunya. Seperti Lord of the Ring, yang justru saya enggak pernah menyentuh buku cerita karangan Tolkien itu.

Musician Agent of Change

Kemarin, ketika Cokelat datang ke kantor, ada komentar menarik dari Ronny, bassis grup musik asal Bandung ini. “Saya yakin dibanding para politikus itu, musisi justru lebih sering turun ke masyarakat,” katanya.

 

Ia mencontohkan, setiap kali Cokelat mengadakan tur keliling nusantara, mereka benar-benar langsung melihat dan merasakan betul apa yang terjadi di masyarakat.  “Setiap kali kita ketemu kita melihat bagaimana keadaan masyarakat itu sekarang. Kita juga mendengarkan apa yang mereka keluhkan,” katanya.

 

Ronny memang kebingungan, sebab ia tidak bisa melakukan apa-apa layaknya pejabat negara. Tapi, ia dan teman-temannya di Cokelat merasa perlu untuk menyuarakan keinginan masyarakat Indonesia dalam setiap lagu mereka.

 

Makanya, sampai saat ini Ronny berjanji Cokelat tidak akan pernah menghilangkan nuansa nasionalisme mereka setiap kali menciptakan lagu.

 

Saya memang tertegun mendengar perkataan Ronny. Dibanding personel Cokelat lainnya, saya pikir dia sangat vokal, kritis dan mempunyai cara pandang politik yang mumpuni.

 

Tapi yang jadi perhatian saya bukan pada kritisnya bassis Cokelat ini, tapi komentar Ronny yang tersirat menyatakan bahwa musisi memang punya peranan penting dalam masyarakat.

 

Saya memang setuju dengan pendapat itu, sebagai salah satu unsur dari seni budaya, musisi punya peranan yang sangat strategis  bagi masyarakat. Kehadiran mereka bisa jadi penyambung lidah dan corong suara rakyat.

 

Kita pernah ingat, di jaman-jaman kemerdekaan, musisi hadir untuk membarakan semangat perjuangan. Di era kepimpinan Soekarno, para musisi hadir guna menyuarakan kebebasan. Di era Soeharto, musisi hadir memperjuangkan hak-hak orang miskin dan terpinggirkan.

 

Setiap era mempunyai tokohnya masing-masing. Saya tidak perlu menyebutkan namanya, karena memang semua orang pasti bisa mengingat pahlawan mereka masing-masing yang mereka nyanyikan lagunya dan ditiru pola pikirnya.

 

 

Di luar negeri hal yang sama juga terjadi. Musisi-musisi besar yang ada tidak pernah lupa menciptakan lagu yang sarat kritik sosial. John “Working Class Hero” Lennon pun rela jadi martir demi misi suci.

 

Di Indonesia, saat ini, kala mahasiswa dibungkam karena tuduhan anarkisme setiap menyuarakan pendapatnya, mungkin sudah saatnya bagi para musisi mengatur barisan. Saat toa-toa mahasiswa tidak berguna, microphone mereka diharapkan mampu mengetuk pintu istana.

 

Masalahnya, sejauh mana peran ini bisa diharapkan ketika lagu-lagu yang ada justru hanya bertemakan perselingkuhan?

 

Motif?

 

Seiring pengumuman kenaikan BBM, pemerintah juga memberikan himbauan lain. Mereka mengharapkan pengusaha memberikan kebijakan baru kepada karyawannya agar mampu bertahan dari cobaan ini.

 

Namun, himbauan itu tidak berhenti di titik itu saja. Selanjutnya mereka mengaku tidak mampu memaksa himbauan tersebut kepada pengusaha.

 

Ketidakberdayaan itu bukan tanpa sebab. Pemerintah meyakini bahwa perusahaan mempunyai kebijakan khusus bagi karyawannya. Jadi, ada perubahan atau tidak itu tergantung dari motivasi perusahaan.

 

Perubahan akan terjadi,  jika selain mencari keuntungan ekonomis, perusahaan tersebut juga berusaha melindungi daya beli karyawan. Hal ini wajar, sebab karyawan memang mempunyai hak untuk dilindungi daya belinya mengingat mereka telah memberikan nilai lebih kepada perusahaan.

 

Sementara itu, jika perusahaan hanya bekerja berdasarkan motivasi cari untung, perubahan sama sekali tidak akan pernah terjadi. Segala bentuk perubahan kebijakan akan dianggap sebagai kerugian yang akan mencederai pendapatan.

 

Padahal, yang perlu disadari di sini, melindungi daya beli karyawan, tidak hanya dilakukan dengan cara meningkatkan pendapatan. Banyak cara bisa dilakukan agar kemampuan daya beli ini bisa bertahan.

 

Di kantor istri saya, semalam setelah pengumuman kenaikan BBM, para pimpinan di sana langsung menggelar rapat. Ketika rapat selesai ditemukan keputusan bahwa mereka akan memberikan jatah makan siang kepada karyawan.

 

Mereka mengharapkan karyawan tidak lagi mengeluarkan biaya pribadi untuk keperluan makan siang. Jadinya, uang makan pribadi itu bisa dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan lain.

 

Kebijakan itu memang terlihat biasa saja. Tapi, di situ terlihat bahwa mereka mempunyai hasrat yang tinggi untuk melindungi kemampuan daya beli karyawan dan yang lebih penting berusaha menjaga kesejahteraan karyawan.

 

Jadi, kenaikan BBM bisa jadi salah satu cara paling efektif untuk mengetahui motivasi perusahaan kepada Anda?

 

Got Busy?

Sometimes shit happens. Shit happens for a reason. Ameeennn

Bioskop oh Bioskop

Dulu, ketika tahun 1999-an, bapak saya berhenti mengajak saja nonton bioskop. Waktu itu, ia prihatin dengan judul-judul film yang makin amburadul. Dia, menurut saya,   tidak akan rela melihat anaknya curi-curi pandang ke paha Malvin Shayna, Kiki Fatmala hingga Febby Lawrence. Apalagi, melihat adegan panas yang disajikan di film tersebut.

Sekarang, di awal tahun 2008, fenomena ini hampir terulang lagi. Meski judulnya tak segahar, trilogi Gadis Metropolis, tapi eksploitasi simbol-simbol seksual jelas-jelas terasa.Yup, film yang mengumbar tema seksual memang sudah datang lagi menggantikan trend hantu-hantuan.

Berbekal wajah-wajah tampan dan kenes-kenes dan balutan teknologi yang lebih mapan, film ini jelas lebih mengkhawatirkan ketimbang pocong-pocong sialan atau film mesum jaman dulu. Sebab, segmennya sudah nyata atawa jelas, anak-anak muda yang tengah penasaran dan dilanda birahi.

Hal ini memang tidak pernah diprediksikan sebelumnya. Sebab, meski dihajar oleh film-film hantu, dunia film Indonesia cukup telaten dalam berkreasi. Hanya saja kesuksesan Quickie Express memang memunculkan efek domino.

Para pengusaha film mulai menyadari, selain iblis, ternyata godaan iblis manusia berupa hawa nafsu justru jauh lebih menguntungkan. Keyakinan mereka, tinggal dibungkus komedi, film ini bisa lolos sensor dan bisa diterima masyarakat.

Selain itu, mereka juga berkaca di Amerika, American Pie sangat digemari oleh masyarakat karena kekenesan mereka dalam bermain-main tema seks. Jika film seperti ini digemari, kenapa tidak kita buat saja yang sama, daripada dikritik main hantu terus, mungkin itu pikir mereka.

Makanya, saat ini sudah banyak film jenis secara beruntun beredar di bioskop. Setelah Quickie, ada Kawin Kontrak, XL, Drop Out dan kemudian baru-baru ini adalah ML (Indika Entertainment), Namaku DICK (MD ENtertainment), dan Big Size Mas (Inters Media).

Dua film yang disebut terakhir ini bahkan sudah gagah memampangkan posternya di Megaria. Lengkap dengan pose wanita-wanita yang bisa menstimulir hormon testosteron.  

Mungkin saya terlalu kolot, mungkin dibilang munafik, karena tidak suka dengan film ini. Tapi, lebih baik saya dibilang munafik, ketimbang anak-anak Indonesia lainnya justru berhenti diajak ke bioskop gara-gara film seperti ini.