Dulu, kedua orang tua saya tidak pernah punya mimpi yang muluk pada anak-anaknya. Tidak seperti orang tua lainnya, harapan mereka justru sangat sederhana.
“Dulu, Mamah dan Papah enggak punya keinginan apa-apa sama kalian. Termasuk soal pekerjaan. Kita berdua malah berharap, kalau anak-anak saya nanti bisa kerja. Jadi SPG pun bagus lah,” kata Mamah saya, ketika liburan di Bandung waktu kemarin itu.
Mamah memang punya banyak seribu alasan kenapa ia hanya mempunyai keinginan yang sesederhana itu. Kondisi ekonomi dan finansial yang tidak menentu waktu itu memaksa kedua orang tua saya tidak mau berharap yang aneh-aneh.
Ketika kita masih bersekolah, Mamah memang hanya bekerja sebagai seorang guru. Sedangkan, Bapak saya, sama sekali tidak bekerja. Ia hanya berusaha mencari proyek sana-sini dari teman-temannya.
Dari pekerjaan itu, Mamah dan Bapak hanya memiliki gaji yang tidak seberapa. Bahkan, penghasilan yang mereka dapat secara kasar tidak akan mampu memenuhi 5 orang anak.
Tapi, beruntung kami mempunyai orang tua seperti Mamah.
“Mamah kamu itu kayak Bubu (jaring ikan). Kalau ada (uang) yang masuk, enggak bakal bisa keluar lagi,” kata Bapak saya suatu waktu.
Bapak sendiri juga mempunyai kelebihan di mata kami sekeluarga. Ia sama sekali tidak pernah berusaha memberatkan Mamah yang bekerja keras membanting tulang.
Saya selalu ingat, Bapak tetap berkomitmen menggunakan uangnya sendiri untuk uang jajan anak-anak di sekolah. Entah dari mana uang itu ia dapat, saya sendiri sampai sekarang tidak tahu.
Dugaan saya, seperti Mamah, ketika Bapak berhasil mendapatkan uang, ia juga berusaha menjaganya sebaik mungkin.
Dari kondisi seperti itu, Mamah dan Bapak memang tidak punya bayangan bahwa anak-anaknya akan mampu mencicipi sekolah tinggi. Sama sekali ada di pikiran mereka berdua, anak-anaknya akan mendapatkan gelar Sarjana.
“Ketika kakak kamu masuk kuliah. Mamah justru bingung, harus apa lagi yang mamah lakukan biar kakak kamu tidak berhenti di tengah jalan,” kata Mamah.
Kegundahan itu memang terus berjalan seiring kakak saya kuliah. Setiap kakak berangkat kuliah, Mamah selalu berusaha membesarkan hati kakak saya untuk tetap terus bersemangat kuliah, tanpa harus bingung memikirkan biayanya.
Tapi, hidup memang punya jalannya sendiri-sendiri. Hidup berputar dan terus memberikan kesempatan bagi setiap orang yang mempunyai dan melakukan niat yang baik. Perjuangan Mamah mengajar akhirnya berbalas juga. Ia berhasil mendapatkan kesempatan jadi Kepala Sekolah sebuah SMA swasta.
Saat itu, Mamah dan Bapak benar-benar bersyukur. Kami sekeluarga benar-benar berterima kasih pada Tuhan, ternyata kami diberi kesempatan untuk mencoba mendapatkan kesempatan yang lebih baik lagi.
“Tapi Mamah enggak pernah berani membayangkan kalian bisa kuliah semuanya. Sebab, jabatan ini pasti hanya sementara,” kata Mamah.
Selama Mamah menjabat jadi Kepala Sekolah, kakak pertama saya memang berhasil menamatkan kuliahnya. Ia pun dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan.
Namun, apa yang ditakutkan Mamah akhirnya jadi kenyataan. Masa jabatan Mama akhirnya selesai juga. Ia harus digantikan oleh orang lain yang lebih muda.
Perubahan ini sangat banyak berimbas kepada keluarga kami. Kakak kedua saya akhirnya gagal meneruskan kuliahnya. Ia pun akhirnya memilih menikah untuk meringankan beban orang tua.
Saya selalu ingat, meski ia jadi orang pertama yang menikah di keluarga kami, justru pesta pernikahannya hanya dijalankan dengan sangat sederhana. Hanya mengumpulkan tetangga sekitar di atas sebuah tikar. Dan menjadikan ceramah agama dari ustad keluarga kami sebagai isi acara.
Meski sedikit gonjang-ganjing, kedua orang tua kami tetap berkomitmen untuk memberikan kesempatan kepada anak-anaknya untuk mencoba lebih baik lagi. Setelah kakak ketiga saya lulus SMA, Mamah tetap mendorongnya untuk masuk kuliah.
Namun, kakak ketiga saya ini sadar diri. Ia tidak mau masuk kuliah dengan biaya yang sangat tinggi. Alhasil, ia memilih untuk masuk D3. Pilihan yang sangat bijaksana. Bahkan, Mamah saya benar-benar merasa lega dengan pilihan tersebut.
Saya sendiri sebenarnya merasa sedih dengan pilihan kakak ketiga saya itu. Dibandingkan kakak-kakak saya, ia justru adalah anak yang paling pintar.
Namun, kesempatan yang ia peroleh justru tidak tepat. Meski pun begitu, semangat juangnya yang tinggi berhasil membuat ia berhasil lulus dengan cepat.
Ketika acara kelulusan, foto wisuda kakak saya ini pun akhirnya yang paling besar dibandingkan kakak saya yang pertama. Foto ini paling besar mungkin karena Mamah menyadari bahwa pengorbanan cita-cita kakak saya ini lebih besar ketimbang kakak saya.
Tahun 1997, krisis ekonomi mendera Indonesia. Kami sekeluarga merasakan betul dampak krisis ini. Bertepatan dengan krisis ini, saya juga lulus SMA.
Tidak seperti ketiga kakak saya yang diberi kesempatan untuk kuliah, kedua orang tua saya justru bingung apakah saya akan bisa duduk di bangku kuliah atau tidak.
“Semuanya makin mahal. Kuliah enggak cukup uang satu juta,” kata Mamah saya waktu itu.
Bapak saya pun mengusulkan saya untuk cari kerja selepas SMA. Ia bahkan berdiskusi dengan keluarga untuk membawa saya ke Batam. Sebab, di pulau itu, ia mempunyai saudara yang mau memperkerjakan saya di sebuah pabrik.
Mendengar rencana tersebut, sebenarnya hati saya jadi kacau balau. Seperti anak-anak muda lainnya waktu itu, saya ingin juga kuliah. Apalagi, masuk kuliah swasta di mana teman-teman saya berkumpul.
Tapi apalah daya, uang sudah tidak ada. Saya juga tidak sanggup harus memeras keringat orang tua saya lebih keras lagi.
Satu-satunya harapan saya hanya lulus UMPTN. Tidak seperti teman-teman saya yang memilih universitas favorit, saya justru mensurvey universitas-universitas yang mempunyai biaya akademik sangat murah.
Akhirnya dengan sangat realistis saya memilih UNSOED dan UNILA. Bagi saya kedua universitas ini meminta biaya yang sangat murah dan tidak akan membuat kedua orang tua saya jadi pusing kepala.
Lulus atau tidak, semuanya saya serahkan kepada Tuhan. Jika saya tidak berhasil saya menetapkan hati akan hijrah ke Batam dan berusaha membantu kedua orangtua saya dengan bekerja.
Sebelum pengumuman, Mamah saya selalu berusaha melakukan shalat malam. Bahkan, ketika di hari pengumuman, saya melihatnya tertidur di atas sajadah.
Melihat itu saya benar-benar tidak bisa menahan air mata saya. Entah apa yang ada di dalam hati Mamah saya ketika ia menyadari saya tidak lulus. Dalam hatinya dia mungkin remuk, tapi bukan karena kecewa, tapi menyadari bahwa jalan yang nantinya akan saya tempuh akan semakin terjal.
Pagi-pagi Buta, saya dan bapak saya berboncengan motor Vespa pergi ke arah Harmoni. Di sana, kami berdua akhirnya membeli koran KOMPAS.
“Jangan dibuka sekarang. Nanti saja kamu bukanya,” kata Bapak.
Saya tahu, Bapak mungkin tidak akan kuasa mengendalikan motornya jika saya tidak lulus. Seperti Mamah, dia mungkin tidak akan tega mengirimkan saya ke Batam hanya untuk jadi pekerja pabrik.
Sesampai di rumah, suasana sangat sepi. Hanya ada Mamah yang menyiapkan teh buat bapak dan saya. Ketika melihat saya dia hanya tersenyum saja. Saya pun pun langsung masuk ke kamar untuk membaca koran.
Di dalam kamar ketika saya membaca pengumuman, saya benar-benar merasa di langit ketujuh. Nama saya ternyata tertera di antara jutaan nama lainnya.
Saya pun langsung bergegas ke luar kamar dan memberi tahu Mamah dan Bapak. Mendengar kegembiraan saya, hanya ada dua kata-kata yang terucap di mulut Mamah.
“Allahu Akbar,” katanya sambil bersujud syukur di lantai rumah.
Saking kerasnya teriakan Mamah, seluruh kakak dan adik saya pun langsung bangun. Mereka terkaget-kaget mendengar teriakan Mamah saya. Namun, setelah mendengar saya lulus, ketiga kakak saya langsung menangis dan memeluk Mamah saya.
Sementara itu adik saya pun menyalami saya. Saya yakin dia sangat bahagia. Tapi, saya menyadari ada sedikit perasaan khawatir dalam dirinya waktu itu.
Ya, dia memang harus mengalami hal yang sama seperti saya. Bahkan, dia mengarungi ombak yang lebih terjal lagi. Seperti saya, dia memang tidak punya pilihan lain selain masuk universitas negeri.
Mengikuti jejak saya, dia pun memilih dua universitas yang sama yang saya pilih dulu. Sayang, segala upaya tersebut justru berakhir sia-sia. Ia gagal masuk dan kami pun termasuk Mamah dan Bapak tak sanggup untuk menunjukkan muka keputusasaan kami.
Tapi, adik saya adalah batu karang di tengah gelombang. Ia adalah cerminan betapa semangat merupakan bara api. Ia tidak menyerah, ia tidak mau kuliah di swasta dan memberatkan kedua orang tuanya.
“Saya akan coba lagi tahun depan,” katanya serius.
Mendengar ucapan itu Mamah benar-benar menangis. Ia tidak bisa menyangka, anak bungsungnya justru adalah anak yang harus menjalani ujian terberat.
“Apa yang akan ia lakukan selama menganggur nanti,” katanya.
Namun, keraguan Mamah bisa terhapus juga oleh semangat adik saya. Setahun itu, ia sama sekali tidak mau bertampu tangan.
Ia berusaha mengikuti bimbingan belajar agar bisa memastikan dia masuk universitas negeri. Biayanya ia tanggung sendiri dengan berjualan koran bersama teman-temannya.
Untuk mengirit biaya , ia malah sering berjalan kaki dari rumah ke tempat bimbingan belajar. Saya ingat, ketika saya liburan kuliah, setiap kali di rumah, saya mendapati badannya justru penuh peluh.
“Doain ya Bang, adek juga mau masuk kuliah di tempatnya Abang. Biar sama-sama kita di sana,” katanya kepada saya.
Mendengar keinginan itu saya hanya bisa menjawab Amin. Dalam hati, saya menangis, adik saya, anak paling terakhir dalam keluarga kami justru mengalami semua kesulitan yang pernah dibayangkan kedua orang tua kami.
Di kesempatan kedua ini, adik saya memang berusaha menjalani semuanya seorang diri. Dia tidak mau membagi kesulitannya kepada orangtua kami dan saudara-saudaranya sendiri.
Berbeda dengan tahun pertamanya UMPTN, adik saya bahkan memilih berangkat sendiri ke lokasi ujian. Ia sama sekali tidak mau saya antar ke sana.
“Biar bang, adek kan kemarin udah dianterin ke tempatnya. Adek udah tahu, biar adek jalan sendiri aja,” katanya.
Mendengar ucapan itu, Bapak merupakan orang yang paling bahagia. Baginya, sudah cukup keberanian yang ditunjukkan adik saya ini dalam menghadapi cobaan hidup.
Sedangkan kami sekeluarga, justru adalah orang yang paling cemas jika ia gagal lagi. Kami semua tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati adik kami jika ia kembali gagal dan harus mencoba jalan yang lain.
Tapi, The Good Winner adalah orang yang berhasil menjawab kegagalan pertama. Adik saya berhasil mengalahkan ujian terbesarnya waktu itu.
Ia akhirnya lulus, dan kita pun benar-benar bangga kepada dia. Bukan karena kelulusannya, tapi karena kegagahan dan keberanian dia dalam menjawab semua cobaan hidup.
Dalam hati, saya yakin, berkat ujian ini adik saya akan mampu mencapai semua keinginannya. Terbukti, 8 tahun berlalu, dia satu-satunya keluarga yang berhasil mencapai jenjang S-2.
Sementara itu kami semua, berhasil mendapatkan pekerjaan yang kami inginkan. Lebih dari sekedar impian sederhana menjadi seorang SPG.