Archive Page 2

Pahlawan Pertama

napoleon.jpg

Sepanjang umur saya, kado ulang tahun yang paling berkesan bagi saya adalah hadiah yang bapak berikan ketika saya  berulang tahun ke-8. Waktu itu, Bapak memberikan saya sebuah buku berjudul Napoleon Bonaparte, Kaisar Prancis.

“Hadiah ulang tahun buat Wahyu. Rajin-rajin membaca Nak. Dari Bapakmu,” tulis Bapak waktu itu disertai tandatangannya di halaman pertama buku tersebut.

Dibandingkan buku yang ada sekarang, buku yang saya terima ini sebenarnya kualitas cetakannya sangat buruk. Hurufnya kecil-kecil dan gambar-gambar yang ada di dalam buku tersebut sangat buruk. Kertasnya pun kertas roti. Setiap membaca saya selalu kesulitan untuk membalik halamannya.

Tapi,  tetap saja waktu itu saya benar-benar suka dengan buku ini. Rasa suka saya muncul ketika melihat gambar Napoleon mengenakan baju kaisar di dalam buku tersebut.

Waktu itu digambarkan Napoleon dengan wajah khas pria Eropa. Ia terlihat gagah dan jumawa. Di gambar itu, ia juga tengah duduk di atas sebuah kursi kerajaan. Ia mengenakan jubah raja yang sangat besar sambil memegang sebuah tongkat di tangan kiri. Sedangkan, tangan kanan menunjuk ke arah depan.

“Wah orangnya keren banget. Ini pahlawan saya,” pikir saya waktu itu.

Rasa terpesona saya semakin bertambah ketika saya memulai membaca buku itu halaman demi halaman. Setiap lembar, rasa kagum saya terus mengalir seiring perjalanan Napoleon dari Corsica, Prancis,  Eropa, St. Helena hingga Pulau Elba.

Di buku, yang entah saya lupa siapa penulisnya, kisah Napoleon benar-benar digambarkan layaknya sebuah dongeng. Saya sendiri waktu itu tidak tahu, apakah Napoleon itu sebenarnya ada atau tidak. Tapi, tetap saja dia pahlawan saya.

Bapak sendiri sangat suka setiap kali saya membaca buku tersebut. Melihat saya menyenangi buku seperti itu, ia pun kemudian membelikan lagi sebuah buku, berjudul Alexander Graham Bell.

Berbeda dengan buku Napoleon, saya tidak begitu tertarik dengan buku Alexander Graham Bell. Napoleon, bagi saya adalah sosok yang berhasil menjelma jadi pahlawan pertama.

Ada satu kalimat yang tidak pernah saya lupakan dari seorang Napoleon.

“Kemuliaan itu memang hanya sementara. Tapi, tak dikenal adalah siksaan yang akan berlangsung selamanya.”

Impian Sederhana

Dulu, kedua orang tua saya tidak pernah punya mimpi yang muluk pada anak-anaknya. Tidak seperti orang tua lainnya, harapan mereka justru sangat sederhana.

“Dulu, Mamah dan Papah enggak punya keinginan apa-apa sama kalian. Termasuk soal pekerjaan. Kita berdua malah berharap, kalau anak-anak saya nanti bisa kerja. Jadi SPG pun bagus lah,” kata Mamah saya, ketika liburan di Bandung waktu kemarin itu.

Mamah memang punya banyak seribu alasan kenapa ia hanya mempunyai keinginan yang sesederhana itu. Kondisi ekonomi dan finansial yang tidak menentu waktu itu memaksa kedua orang tua saya tidak mau berharap yang aneh-aneh.

Ketika kita masih bersekolah, Mamah memang hanya bekerja sebagai seorang guru. Sedangkan, Bapak saya, sama sekali tidak bekerja. Ia hanya berusaha mencari proyek sana-sini dari teman-temannya.

Dari pekerjaan itu, Mamah dan Bapak hanya memiliki gaji yang tidak seberapa. Bahkan, penghasilan yang mereka dapat  secara kasar tidak akan mampu memenuhi 5 orang anak.

Tapi, beruntung kami mempunyai orang tua seperti Mamah.

“Mamah kamu itu kayak Bubu (jaring ikan). Kalau ada (uang) yang masuk, enggak bakal bisa keluar lagi,” kata Bapak saya suatu waktu.

Bapak sendiri juga mempunyai kelebihan di mata kami sekeluarga. Ia sama sekali tidak pernah berusaha memberatkan Mamah yang bekerja keras membanting tulang.

Saya selalu ingat, Bapak tetap berkomitmen menggunakan uangnya sendiri untuk uang jajan anak-anak di sekolah. Entah dari mana uang itu ia dapat, saya sendiri sampai sekarang tidak tahu.

Dugaan saya, seperti Mamah, ketika Bapak berhasil mendapatkan uang, ia juga berusaha menjaganya sebaik mungkin.

Dari kondisi seperti itu, Mamah dan Bapak memang tidak punya bayangan bahwa anak-anaknya akan mampu mencicipi sekolah tinggi. Sama sekali ada di pikiran mereka berdua, anak-anaknya akan mendapatkan gelar Sarjana.

“Ketika kakak kamu masuk kuliah. Mamah justru bingung, harus apa lagi yang mamah lakukan biar kakak kamu tidak berhenti di tengah jalan,” kata Mamah.

Kegundahan itu memang terus berjalan seiring kakak saya kuliah. Setiap kakak berangkat kuliah, Mamah selalu berusaha membesarkan hati kakak saya untuk tetap terus bersemangat kuliah, tanpa harus bingung memikirkan biayanya.

Tapi, hidup memang punya jalannya sendiri-sendiri. Hidup berputar dan terus memberikan kesempatan bagi setiap orang yang mempunyai dan melakukan niat yang baik. Perjuangan Mamah mengajar akhirnya berbalas juga. Ia berhasil mendapatkan kesempatan jadi Kepala Sekolah sebuah SMA swasta.

Saat itu, Mamah dan Bapak benar-benar bersyukur. Kami sekeluarga benar-benar berterima kasih pada Tuhan, ternyata kami diberi kesempatan untuk mencoba mendapatkan kesempatan yang lebih baik lagi.

“Tapi Mamah enggak pernah berani membayangkan kalian bisa kuliah semuanya. Sebab, jabatan ini pasti hanya sementara,” kata Mamah.

Selama Mamah menjabat jadi Kepala Sekolah, kakak pertama saya memang berhasil menamatkan kuliahnya. Ia pun dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan.

Namun, apa yang ditakutkan Mamah akhirnya jadi kenyataan. Masa jabatan Mama akhirnya selesai juga. Ia harus digantikan oleh orang lain yang lebih muda.

Perubahan ini sangat banyak berimbas kepada keluarga kami. Kakak kedua saya akhirnya gagal meneruskan kuliahnya. Ia pun akhirnya memilih menikah untuk meringankan beban orang tua.

Saya selalu ingat, meski ia jadi orang pertama yang menikah di keluarga kami, justru pesta pernikahannya hanya dijalankan dengan sangat sederhana. Hanya mengumpulkan tetangga sekitar di atas sebuah tikar. Dan menjadikan ceramah agama dari ustad keluarga kami sebagai isi acara.

Meski sedikit gonjang-ganjing, kedua orang tua kami tetap berkomitmen untuk memberikan kesempatan kepada anak-anaknya untuk mencoba lebih baik lagi. Setelah kakak ketiga saya lulus SMA, Mamah tetap mendorongnya untuk masuk kuliah.

Namun, kakak ketiga saya ini sadar diri. Ia tidak mau masuk kuliah dengan biaya yang sangat tinggi. Alhasil, ia memilih untuk masuk D3. Pilihan yang sangat bijaksana. Bahkan, Mamah saya benar-benar merasa lega dengan pilihan tersebut.

Saya sendiri sebenarnya merasa sedih dengan pilihan kakak ketiga saya itu. Dibandingkan kakak-kakak saya, ia justru adalah anak yang paling pintar.

Namun, kesempatan yang ia peroleh justru tidak tepat. Meski pun begitu, semangat juangnya yang tinggi berhasil membuat ia berhasil lulus dengan cepat.

Ketika acara kelulusan, foto wisuda kakak saya ini pun akhirnya yang paling besar dibandingkan kakak saya yang pertama. Foto ini paling besar mungkin karena Mamah menyadari bahwa pengorbanan cita-cita kakak saya ini lebih besar ketimbang kakak saya.

Tahun 1997, krisis ekonomi mendera Indonesia. Kami sekeluarga merasakan betul dampak krisis ini. Bertepatan dengan krisis ini, saya juga lulus SMA.

Tidak seperti ketiga kakak saya yang diberi kesempatan untuk kuliah, kedua orang tua saya justru bingung apakah saya akan bisa duduk di bangku kuliah atau tidak.

“Semuanya makin mahal. Kuliah enggak cukup uang satu juta,” kata Mamah saya waktu itu.

Bapak saya pun mengusulkan saya untuk cari kerja selepas SMA. Ia bahkan berdiskusi dengan keluarga untuk membawa saya ke Batam. Sebab, di pulau itu, ia mempunyai saudara yang mau memperkerjakan saya di sebuah pabrik.

Mendengar rencana tersebut, sebenarnya hati saya jadi kacau balau. Seperti anak-anak muda lainnya waktu itu, saya ingin juga kuliah. Apalagi, masuk kuliah swasta di mana teman-teman saya berkumpul.

Tapi apalah daya, uang sudah tidak ada. Saya juga tidak sanggup harus memeras keringat orang tua saya lebih keras lagi.

Satu-satunya harapan saya hanya lulus UMPTN. Tidak seperti teman-teman saya yang memilih universitas favorit, saya justru mensurvey universitas-universitas yang mempunyai biaya akademik sangat murah.

Akhirnya dengan sangat realistis saya memilih UNSOED dan UNILA. Bagi saya kedua universitas ini meminta biaya yang sangat murah dan tidak akan membuat kedua orang tua saya jadi pusing kepala.

Lulus atau tidak, semuanya saya serahkan kepada Tuhan. Jika saya tidak berhasil saya menetapkan hati akan hijrah ke Batam dan berusaha membantu kedua orangtua saya dengan bekerja.

Sebelum pengumuman, Mamah saya selalu berusaha melakukan shalat malam. Bahkan, ketika di hari pengumuman, saya melihatnya tertidur di atas sajadah.

Melihat itu saya benar-benar tidak bisa menahan air mata saya. Entah apa yang ada di dalam hati Mamah saya ketika ia menyadari saya tidak lulus. Dalam hatinya dia mungkin remuk, tapi bukan karena kecewa, tapi menyadari bahwa jalan yang nantinya akan saya tempuh akan semakin terjal.

Pagi-pagi Buta, saya dan bapak saya berboncengan motor Vespa pergi ke arah Harmoni. Di sana, kami berdua akhirnya membeli koran KOMPAS.

“Jangan dibuka sekarang. Nanti saja kamu bukanya,” kata Bapak.

Saya tahu, Bapak mungkin tidak akan kuasa mengendalikan motornya jika saya tidak lulus. Seperti Mamah, dia mungkin tidak akan tega mengirimkan saya ke Batam hanya untuk jadi pekerja pabrik.

 Sesampai di rumah, suasana sangat sepi. Hanya ada Mamah yang menyiapkan teh buat bapak dan saya. Ketika melihat saya dia hanya tersenyum saja. Saya pun pun langsung masuk ke kamar untuk membaca koran.

Di dalam kamar ketika saya membaca pengumuman, saya benar-benar merasa di langit ketujuh. Nama saya ternyata tertera di antara jutaan nama lainnya.

Saya pun langsung bergegas ke luar kamar dan memberi tahu Mamah dan Bapak. Mendengar kegembiraan saya, hanya ada dua kata-kata yang terucap di mulut Mamah.

“Allahu Akbar,” katanya sambil bersujud syukur di lantai rumah.

Saking kerasnya teriakan Mamah, seluruh kakak dan adik saya pun langsung bangun. Mereka terkaget-kaget mendengar teriakan Mamah saya. Namun, setelah mendengar saya lulus, ketiga kakak saya langsung menangis dan memeluk Mamah saya.

Sementara itu adik saya pun menyalami saya. Saya yakin dia sangat bahagia. Tapi, saya menyadari ada sedikit perasaan khawatir dalam dirinya waktu itu.

Ya, dia memang harus mengalami hal yang sama seperti saya. Bahkan, dia mengarungi ombak yang lebih terjal lagi. Seperti saya, dia memang tidak punya pilihan lain selain masuk universitas negeri.

Mengikuti jejak saya, dia pun memilih dua universitas yang sama yang saya pilih dulu. Sayang, segala upaya tersebut justru berakhir sia-sia. Ia gagal masuk dan kami pun termasuk Mamah dan Bapak tak sanggup untuk menunjukkan muka keputusasaan kami.

Tapi, adik saya adalah batu karang di tengah gelombang. Ia adalah cerminan betapa semangat merupakan bara api. Ia tidak menyerah, ia tidak mau kuliah di swasta dan memberatkan kedua orang tuanya.

“Saya akan coba lagi tahun depan,” katanya serius.

Mendengar ucapan itu Mamah benar-benar menangis. Ia tidak bisa menyangka, anak bungsungnya justru adalah anak yang harus menjalani ujian terberat.

“Apa yang akan ia lakukan selama menganggur nanti,” katanya.

Namun, keraguan Mamah bisa terhapus juga oleh semangat adik saya. Setahun itu, ia sama sekali tidak mau bertampu tangan.

Ia berusaha mengikuti bimbingan belajar agar bisa memastikan dia masuk universitas negeri. Biayanya ia tanggung sendiri dengan berjualan koran bersama teman-temannya.

Untuk mengirit biaya , ia malah sering berjalan kaki dari rumah ke tempat bimbingan belajar. Saya ingat, ketika saya liburan kuliah, setiap kali di rumah, saya mendapati badannya justru penuh peluh.

“Doain ya Bang, adek juga mau masuk kuliah di tempatnya Abang. Biar sama-sama kita di sana,” katanya kepada saya.

Mendengar keinginan itu saya hanya bisa menjawab Amin. Dalam hati, saya menangis, adik saya, anak paling terakhir dalam keluarga kami justru mengalami semua kesulitan yang pernah dibayangkan kedua orang tua kami.

Di kesempatan kedua ini, adik saya memang berusaha menjalani semuanya seorang diri. Dia tidak mau membagi kesulitannya kepada orangtua kami dan saudara-saudaranya sendiri.

Berbeda dengan tahun pertamanya UMPTN, adik saya bahkan memilih berangkat sendiri ke lokasi ujian. Ia sama sekali tidak mau saya antar ke sana.

“Biar bang, adek kan kemarin udah dianterin ke tempatnya. Adek udah tahu, biar adek jalan sendiri aja,” katanya.

Mendengar ucapan itu, Bapak merupakan orang yang paling bahagia. Baginya, sudah cukup keberanian yang ditunjukkan adik saya ini dalam menghadapi cobaan hidup.

Sedangkan kami sekeluarga, justru adalah orang yang paling cemas jika ia gagal lagi. Kami semua tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati adik kami jika ia kembali gagal dan harus mencoba jalan yang lain.

Tapi,  The Good Winner adalah orang yang berhasil menjawab kegagalan pertama. Adik saya berhasil mengalahkan ujian terbesarnya waktu itu.

Ia akhirnya lulus, dan kita pun benar-benar bangga kepada dia. Bukan karena kelulusannya, tapi karena kegagahan dan keberanian dia dalam menjawab semua cobaan hidup.

Dalam hati, saya yakin, berkat ujian ini adik saya akan mampu mencapai semua keinginannya. Terbukti, 8 tahun berlalu, dia satu-satunya keluarga yang berhasil mencapai jenjang S-2.

Sementara itu kami semua, berhasil mendapatkan pekerjaan yang kami inginkan. Lebih dari sekedar impian sederhana menjadi seorang SPG.

Inti Kerjasama

Menghargai dan Menghormati… Tanpa kedua itu, tak perlu ada kerjasama.

Supir Tronton

Alah biasa karena biasa. Tentunya, semua orang sudah pernah dengar dan mengerti makna pepatah ini kan.

Kebetulan, saya punya cerita yang berkaitan erat dengan pepatah ini. Cerita ini terjadi ketika saya dan keluarga pergi ke Bandung untuk liburan panjang.

Karena jumlah pesertanya banyak, akhirnya kami membawa dua mobil. Yang pertama disupiri kakak ipar saya. Sedangkan yang kedua dibawa oleh teman kakak ipar saya.

Saya, istri dan bapak saya kebetulan ada di mobil yang dikendarai oleh teman kakak ipar saya. Selama perjalanan, saya dan istri duduk di bangku belakang. Sedangkan, bapak merasa nyaman karena duduk di bangku depan.

Ketika berangkat, sebenarnya tidak ada masalah apa-apa. Namun, ketika masuk jalan tol, saya sudah merasa ada yang salah dengan supir ini.

Tidak seperti biasanya, supir ini mengendarai mobil dengan sangat kencang. Ketika me-rem, jarak yang dibuat sangat berdekatan dengan mobil yang ada di dalamnya.

Awalnya, saya tidak merasa takut dengan gaya nyetir ini. Tapi, ketika saya berada di kursi depan, baru saya benar-benar ketakutan.

Berkali-kali setiap mobil itu mendekati mobil yang ada di depannya, saya terus-terusan berucap. “Sabar pak, sabar. Nyantai aja,” kata saya.

Namun berkali-kali ucapan itu keluar, berkali-kali juga ia tidak mengindahkan. Alhasil, sepanjang perjalanan pergi dan pulang saya benar-benar tidak merasa nyaman.

Setelah pulang, ternyata saya baru tahu kenapa dia bisa senekat itu dalam mengendarai mobil.

“Dulu dia emang sopir tronton. Jadi kayak gitu deh,” kata kakak ipar saya.

Rekor Baru

Selamat, hari Sabtu (15/3) lalu, akhirnya saya berhasil mencetak satu rekor baru dalam hidup saya. Mesin cuci yang beberapa akhir ini ngadat karena airnya tak mau keluar dengan deras, akhirnya bisa saya perbaiki.

Lho, kok bisa sih mesin cuci jadi rekor? Yah bisa, bagi saya ini rekor yang sangat istimewa karena memang  dari dulu hingga sabtu lalu itu saya terkenal tidak pernah bisa membetulkan barang-barang elektronik.

Dulu, sedari kecil saya paling takut jika Ayah saya meminta saya mencoba membenarkan barang-barang elektronik yang ada di rumah. “Coba-coba aja. Ini bekal buat kamu nanti waktu berkeluarga. Nanti setelah berkeluarga bakalan banyak yang kamu harus perbaiki,” katanya.

Setiap kali mendengar ajakan itu, yang bisa saya lakukan hanya melengos. Saya sama sekali tidak peduli dengan urusan bisa atau tidaknya nanti saya membereskan barang setelah menikah.

Ini justru berbeda dengan adik saya,  ia selalu antusias setiap Ayah mengajaknya membetulkan barang. Hingga sekarang, ia jadi orang yang paling diandalkan orangtua saya dalam urusan bener-benerin barang.

Setelah menikah, kekhawatiran Ayah saya sepertinya terwujud juga. Awal-awal menikah, saya kalang kabut membenarkan listrik di rumah yang tiba-tiba korslet, mesin pompa air yang tiba-tiba rusak hingga pintu rumah yang tiba-tiba rusak.

Untungnya, semua masalah tersebut berhasil diperbaiki berkat bantuan tetangga-tetangga saya. Tanpa mereka, bisa jadi rumah saya benar-benar berantakan.

Ketika mesin cuci ngadat, saya sebenarnya sudah hampir angkat tangan. Enggan rasanya mencoba untuk sekedar melirik mesin yang ada di dalamnya. Pilihan satu-satunya, membawa mesin cuci ini ke tempat penjualannya. Maklum masih garansi.

Tapi, tiba-tiba istri saya datang sambil membawa buku petunjuk pemakaian. “Wa, ini ada keterangan soal mesin cuci yang ngadat. Kayaknya, bisa deh dibenerin sendiri,” katanya.

Mendengar ucapan istri, saya langsung diam tertegun. Kira-kira ada sepuluh detik saya bengong.  “Walah, mana pernah saya benerin barang sendiri. Kalau makin rusak gimana nih,” teriak hati saya.

Tapi demi gengsi, akhirnya saya berusaha memberanikan diri mencoba. Pikir saya, kalau bener-bener makin rusak, garansi masih bisa diandalin.

Ketika pertama kali mencoba mesin cuci, asli, saya benar-benar was-was. Saya hanya berusaha fokus mengikuti prosedur yang ada di buku keterangan. Setelah mesin cuci benar-benar terbuka, baru rasa bingung diam-diam makin menyusup ke dalam benak saya.

“Aduh, apa yang musti saya lakukan nih. Baut udah dibuka, mesin udah kelihatan, lalu apa lagi. Masa dipelototin doang,” kata saya dalam hati.

Melihat buku petunjuk, sama sekali tidak ada gunanya. Di buku itu tertulis. “Jika air tidak bisa keluar, gunakan sikat gigi halus untuk membersihkan.” Setelah tulisan itu, hanya ada gambar, sikat gigi dan saluran air mesin cuci. Blas, kagak ada keterangan lainnya.

Setengah merana karena kebingungan, tiba-tiba istri saya datang melihat. Layaknya istri yang baik, ia mencoba memberikan saran. “Coba ini Wa, dibuka aja ininya. Kali-kali ada yang menghambat putaran mesin cuci,” katanya.

 Keterangan istri saya masuk diakal juga. Akhirnya, saya pun mencoba untuk membuka putaran mesin cuci. Kehadiran istri saya membuat saya makin percaya diri. Usulan istri saya seperti sebuah doping yang membuat pelari makin cepat berlari.

Ketika putaran mesin cuci dibuka, masalah pun bisa diketahui. Ternyata, sebuah kancing peniti yang menghambat putaran mesin cuci tidak bisa berjalan dengan baik. Setelah kancing peniti itu diambil, akhirnya mesin cuci ini bisa berjalan dengan baik lagi.

“Astaga, berhasil juga,” ucap saya lega.

Tapi, masalah belum berakhir. Saya harus kembali menutup mesin cuci yang telah saya buka. Asli, masalah ini justru lebih susah ketimbang membuka mesin. Bahkan, masalah in baru selesai, setelah istri saya lagi-lagi turun tangan.

Setelah semuanya selesai, saya memang harus banyak-banyak berterima kasih kepada istri saya ketimbang buku petunjuk.

English Man, English…

Teman saya, Danang, diberi kesempatan khusus wawancara dengan grup musik, Incubus. Sebelum berangkat, dia memang sudah menyiapkan beberapa pertanyaan yang sudah ia translate ke bahasa Inggris.

Sebenarnya, dia sudah percaya diri. Tapi, tetap rasa nervous pasti ada.

Saya sendiri menyarankan agar menggunakan satu kata ajaib saja selama wawancara.

“Pertama lu baca aja pertanyaan yang udah lu tulis. Sisanya, lu gunakan magic word aja tuh, OK OK OK,” kata saya. Mendengar saran saya, dia cuma bisa ketawa aja.

Sebelum Danang, Novi, teman sekantor saya juga, bercerita tentang pentingnya bahasa Inggris buat dia ketika liputan.

“Mas, saya ini kalau liputan pasti ketemu sama orang-orang bule mulu. Daripada saya kesulitan, mendingan saya dilatih kursus bahasa Inggris aja,” katanya.

Dari apa yang dialami Novi dan Danang, saya jadi berpikir, ternyata bahasa Inggris bukan lagi satu kemampuan khusus yang hanya dimiliki wartawan-wartawan tertentu.

Justru, semua wartawan, sejak memutuskan bekerja di dunia tulis menulis ini, memang harus mampu berbahasa Inggris.

So, mulai sekarang i want to try kemampuan English saya (Cinta Laura Mode On)

Maimun Yusuf dan Mama Saya

Di Pemilu 2004, mama saya pernah mencoba ikut-ikutan jadi Anggota DPRD DKI Jakarta. Waktu itu, saya benar-benar tidak setuju, karena memang ibu saya, yang dulunya seorang guru SMP dan SMA ini tidak punya latar belakang politik.

Namun, waktu itu saya senyum-senyum saja, ketika ia mengatakan bahwa setiap orang harus mengetahui bahwa setiap orang harus tahu bahwa politik itu milik siapa saja.

“Pengen tahu juga, apa memang orang-orang milih karena uangnya atau karena orangnya,” kata Mama saya waktu itu.

Di Malaysia, ada orang seperti mama saya. Namanya, Maimun Yusuf. Usianya, 89 tahun. Ketika Malaysia bersiap-siap mengadakan pemilu, Maimun, juga semakin sibuk mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Maimun, tidak main-main dalam kampanye ini.

Ia menggunakan uang sebesar 10 ribu ringgit untuk keperluan kampanye. Mulai dari membuat selebaran hingga menyebar poster berwajah dirinya.

Seorang diri sambil mengendarai sepeda, Maimun berkelililng Kuala Terengganu menyebarkan poster dan selebaran tersebut. Orang-orang di Kuala Terengganu bukan main terkejut dengan aksi Maimun.

Banyak orang mengira dia gila. Sebagian lagi bilang dirinya orang yang bodoh karena nekat ikut-ikutan pemilu. Namun, seperti mama saya, dia mengaku keterlibatannya di Pemilu hanya untuk menjadi salah satu agen perubahan. Baik itu perubahan politik atau pun kondisi ekonomi Malaysia.

“Mungkin saya sudah tua dan miskin. Tapi saya tahu saya telah melakuka keputusan yang benar dengan mengikuti pemilu. Saya ingin perubahan terjadi ketika saya masih hidup,” kata Maimun.

Saya sendiri salut dengan perjuangan Maimun. Tapi, saya seperti sudah punya gambaran tentang akhir perjuangan Maimun.

Seperti Mama saya, perjuangan seperti ini hanya akan berakhir sia-sia. Di dunia seperti ini, tidak ada tempat bagi para politisi yang berjuang lewat hati nurani.

Nocturnal

Ngiprit malam-malam itu ternyata tidak mudah. Kemarin, saya dan istri, pulang ke rumah hingga dini hari. Semalaman, kita berdua menghabiskan waktu karaoke hingga pagi bersama teman-teman.

Saking asyiknya dan juga karena sudah lama tidak bertemu, kita tidak menyangka waktu terus bergulir dengan cepat. Alhasil, kita menutup jamaah karaoke itu tepat jam 1 pagi.

Masalahnya, jarak lokasi karaoke dengan rumah saya terhitung cukup jauh. Rumah ada di Pondok Ungu, Bekasi sedangkan kita berkaraoke di Fatmawati.

Perjalanan makin jauh karena motor yang saya kendarai makin lama makin tidak capable lagi untuk menempuh jarak jauh. Alhasil, kita berdua sampai ke rumah pukul 2.30 pagi.

Setelah sampai di rumah, saya dan istri langsung masuk ke kamar tidur. Paginya, saya meriang dan nafas pun terasa sangat berat. Indikasi, terkena demam.

Alhasil, Sabtu pagi, saya hanya bisa terbaring lemah di kasur. Sekarang, badan masih agak sedikit kurang enak. Memang, jadi nocturnal itu memang tidak mudah.

Lars and The Real Girl

Banyak film yang menawarkan kesederhanaan dan ide cerita yang menarik. Beberapa diantaranya yang sudah pernah saya tonton adalah Lonesome Jim, Snow Cake dan Me, You and Everyone We Know.

Ketiga film ini tidak mempunyai ambisi untuk menghadirkan cerita yang maha dashyat. Mereka hanya mempunyai ide cerita yang menarik dan sebaik mungkin mendeliver cerita tersebut dengan sederhana. Hasilnya, Lonesome Jim, Snow Cake dan Me, You and Everyone We Know justru berhasil jadi sebuah film yang sangat menggelitik dan menggugah perasaan karena masalah yang mereka tangkap adalah masalah keseharian yang benar-benar terjadi dalam hidup kita sendiri.

Selain film-film tadi, baru kemarin saya nonton film berjudul Lars and The Real Girl. Seperti mereka, film yang diperani Ryan Gosling ini sama sekali tidak punya motivasi untuk menjadi film cerdas dan menghibur. Namun, film ini layak jadi perhatian karena masalah yang dihadirkan adalah masalah pola pikir dan tanggung jawab yang biasa terjadi di masyarakat.

Lars and The Real Girl bergulir apa adanya, seperti keseharian hidup kita. Namun, berakhir sangat mengejutkan seperti hidup yang memang selalu terbiasa dengan kejutan.

Aktivis Singapura Berbahagialah

Ada kabar gembira untuk aktivis-aktivis di Singapura. Kali ini mereka tidak perlu lagi pusing tujuh keliling untuk menggelar aksi demonstrasi atau pun orasi.

Meski baru rencana, menurut Menteri Dalam Negeri Singapura, Wong Kan Seng, pemerintah Singapura akan toleran terhadap aksi-aksi demonstrasi. Wong Kan Seng berencana akan menjadikan Hong Lim Park sebagai lokasi demonstrasi.

Hong Lim Park sendiri didirikan pada September 2000. Di taman ini dikenal dengan sebutan Speakers’ Corner. Di taman ini semua orang Singapura dipersilahkan untuk berbicara apa pun. Tapi, tidak semua materi diperbolehkan, materi orasi tidak boleh menyinggung SARA dan harus disampaikan dalam bahasa resmi Singapura.

Dulunya, orang yang ingin berorasi, harus terlebih dahulu mendaftarkan diri ke kantor polisi. Namun belakangan Pemerintah kemudian mengeluarkan Undang-undang yang menghapus keharusan tersebut.

Tapi, jika keinginan Wong Kan Seng terwujud, peraturan lapor polisi justru tetap akan berlaku bagi pelaku demonstrasi. Selain itu, belum jelas juga, apakah pelaku demonstrasi dari luar negeri diperbolehkan ikut berdemo di Hong Lim Park.

Meski demikian, fasilitas Hong Lim Park bagi para aktivis bisa jadi sedikit solusi. Soalnya, negeri sejuta denda itu memang tidak sangat ketat soal demonstrasi.

Beruntung, saya pernah berada di Singapura ketika IMF dan Bank Dunia mengadakan pertemuan di Singapura tahun 2006 lalu. Kebetulan sekali saya jadi saksi demonstrasi resmi yang pertama kalinya terjadi di Singapura.

Sedikit gambaran, waktu itu aksi dilakukan di oleh 30 orang dan banyak peraturan yang aneh-aneh harus ditaati oleh mereka seperti harus menscan kartu identitas mereka, yang terlebih dulu didapat dari panitia acara.

Mereka boleh berorasi, tapi tidak diizinkan untuk menggunakan pengeras suara. Selain itu, disediakan papan tulis untuk menulis slogan. Jadinya, demonstrasi yang sulit pernah dibayangkan orang lain.

Meski sedikit wagu, demonstrasi ini cukup memberikan angin segar. Masyarakat Singapura ternyata memang masih sangat kritis pada kondisi politik dunia.

Foto: textfind.net

« Previous PageNext Page »