Archive for the 'Uncategorized' Category

Bertengkar

 

Seberapa sering Anda bertengkar dengan pasangan Anda? Kalau saya, mungkin hampir setiap hari selalu bertengkar.Mulai dari hal yang remeh-temeh, seperti terlalu keras memanggil, nonton sepakbola, hingga hal yang lebih serius, seperti bertabrakan cara pandang.

 

Lucu memang, tapi hal-hal seperti ini lah yang memang membuat saya dan istri kerap beradu mulut, beradu ego, diam mematung, hingga berpisah kamar dalam waktu sebentar.

 

Melelahkan? Pastinya iya. Tapi, saya tidak pernah berhenti bersyukur, karena masih bisa bertengkar dengan istri saya.

 

Bagi saya, bertengkar adalah salah satu momen yang tepat untuk merefleksi kembali diri saya sendiri. Sesaat setelah bertengkar, biasanya saya langsung terdiam dan berpikir ulang mengenai tindakan-tindakan saya kepada istri.

 

Saya akui, terkadang saat bertengkar  tersembunyi sebuah ego yang mendesak-desak untuk membenarkan diri sendiri dan menyalahkan istri. Saya sendiri tidak ingin berusaha menahan ego itu.

 

Saya membiarkannya agar ego itu memicu saya untuk terus-terusan berpikir ulang. Apakah saya benar, apakah dia salah, apakah ucapan saya kasar. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu memang selalu berkecamuk dalam batin saya, usai bertengkar.

 

Jujur saya menikmatinya, sebab setelah lama berpikir, saya mulai menyadari pertengkaran demi pertengkaran membantu saya untuk bisa mengendalikan ego lebih baik. Bukan hanya demi saya saja, tapi juga buat pasangan saya.

 

Saya pernah nonton film Painted Veil. Di film itu, si tokoh pria marah besar ketika mengetahui sang istri berselingkuh. Guna menghukum istrinya itu, ia pun menyiksa istrinya dengan pindah ke China yang tengah terjangkit wabah kolera.

 

Di tengah kemarahan suami, dan kebencian sang istri yang merasa dihukum dengan tidak wajar oleh sang suami, mereka justru berhasil menemukan makna cinta yang sesungguhnya. Semuanya itu justru berhasil ketika mereka memikirkan ulang semua hal yang membawa mereka kepada kemarahan.

 

Jadi, di saat bertengkar saran saya nikmati lah, dan jangan biarkan diri Anda terbakar dengan kemarahan, tapi cobalah untuk berpikir ulang tentang diri Anda dan pasangan Anda.

 

 

 

 

 

 

Berita di atas Motor

“Way, kok belok ke kanan, ke kiri dong.” Mendengar tegoran tersebut, seketika saya langsung tersadar dari lamunan dan langsung membelokkan laju motor ke arah kiri. “Lupa yah, jalannya atau gimana,” tanya istri saya melanjutkan keheranannya.

 

Tak mau berbohong, akhirnya saya menjawab keheranan dia. Sebab, kalau tidak dijawab juga, mungkin dia akan terus merepet-repet terus. “Enggak, tadi lagi ngelamun mikirin berita aja,” kata saya jujur.


Rupanya, jawaban ini bukan jawaban yang terbaik dari saya. Mendengarnya, ia malah marah-marah lagi.

 

“Ngapain sih kamu mikirin kayak gitu di motor. Bikin celaka tahu, jangan lagi-lagi yah,” ucap istri saya dengan sangat cepat, mungkin mengalahkan kecepatan motor saya yang makin lama makin butut itu.

 

“Iya-iya, enggak lagi deh, tapi gimana udah kebiasaan dari dulu,” kata saya berusaha membela diri.

 

Sebenarnya, kebiasaan ini bukan milik saya pribadi. Mungkin, seluruh wartawan yang ada, sering melakukan kebiasaan ini. Di kejar-kejar deadline, membuat mereka memikirkan berita kapan saja dan di mana saja. Di bus, motor, atau mobil pribadi. Setiap saat dan setiap waktu yang dipikirkan adalah bagaimana menulis berita yang layak naik cetak.

 

Kebiasaan ini, saya duga, sudah ada sejak menjadi wartawan. Saya sendiri sudah didoktrin untuk melakukan hal seperti ini. Ketika di jalan mencari berita, menuju kantor, hingga pulang harus tetap memikirkan bagaimana mencari berita, menemukan gaya penulisan, mencari sudut yang menarik, hingga bagaimana menulisnya.

 

“Wartawan yang baik itu adalah wartawan yang mulai memikirkan bagaimana menulis beritanya sebaik mungkin,ketika mencari berita, sebelum datang ke kantor juga waktu pulang buat nyari berita besok. Kalau bisa di atas motor semuanya udah langsung dipikirin,” kata bos saya di kantor dulu, Zaenudin HM.

 

Disadari atau tidak ucapan itu berpengaruh banyak kepada saya. Pikiran untuk menulis sebaik mungkin sudah langsung muncul ketika saya menerima berita. Jika berita yang didapat sama sekali kurang menarik, otak pun semakin keras diputar.

 

“Waduh, gimana caranya nih biar bisa masuk ke koran,” pikir saya dalam hati setiap kali mendapatkan berita yang menurut saya kurang menarik.

 

Bagi wartawan, berita yang masuk ke koran, merupakan kebanggaan tersendiri. Gagal mendapatkan berita menarik akan jadi kekecewaan tersendiri. Atau bisa dikatakan kalah besar dengan wartawan lain yang mampu menaikkan berita mereka ke halaman koran.

 

Keengganan untuk kalah tersebut, membuat wartawan, mungkin wartawan-wartawan lainnya berusaha keras mengolah berita agar mampu naik cetak. Saking butuh berpikir keras, di atas motor pun, saya berusaha untuk mencari angle-angle yang tepat.

 

Hingga saat ini, saya cukup beruntung, tidak mengalami kejadian aneh-aneh saat melakukan hal ini. Namun, saat ini, setelah mempunyai keluarga, saya kayaknya harus berpikir ulang akan kebiasaan ini. Saya mungkin masih boleh memikirkan berita, tapi jangan di atas motor.

 

“Ingat Keluarga di Rumah Menunggu Anda,” slogan polisi itu pun akhirnya melintas di benak saya.

 

 

 

 

Film Adaptasi

Istri saya marah-marah ketika nonton film P.S I Love U. Dia bilang filmnya benar-benar enggak sama dengan buku. Nah lho?

 

“Bukan hanya enggak sama, tapi banyak isi cerita yang menurut gue sangat emosional justru enggak ada di film,” katanya sambil melotot ke arah saya.

 

Kemarahannya belum usai setelah film selesai. Lagi-lagi ia bilang semua perasaan yang ia dapat saat membaca buku, sama sekali tidak ia rasakan ketika nonton film yang diperani Gerrard Butler dan Hillary Swank itu.

 

“Pokoknya, kamu harus beli DVD yang asli, enggak yang bajakan. Kali aja perasaannya bisa beda,” lagi-lagi kata istri saya seolah mencari kambing hitam kekesalannya.

 

Sebenarnya, perasaan yang sama pernah saya alami juga. Saya benar-benar kecewa ketika menonton film Kite Runner. Sebelum menonton, ekspektasi saya film ini cukup tinggi. Sebab, teman saya dan IMDB mereview positif film ini.

 

Hasilnya, setelah menonton, saya benar-benar kecewa. Sedikit sebenarnya, tapi ada satu hal yang membuat saya sedikit cemberut gara-gara film ini.

 

Yup, saya tidak mendapatkan pengalaman-pengalaman sensasional saat membaca buku. Film yang digarap Marc Foster ini tidak berhasil mengantarkan perasaan yang sama saat saya membaca buku Khaled Hoseini ini.

 

“Iya lah mas, jangan disamain buku dengan film,” kata Novi, teman saya di kantor saat berdiskusi masalah ini.

 

Apa yang dikatakan Novi memang benar. Sedari dulu hingga sekarang, film dan buku adalah media yang berbeda. Film tidak bisa membeberkan semua isi cerita yang ada di buku. Contohnya, Kite Runner, yang benar-benar memotong habis bagian yang teramat penting di buku tersebut.

 

Sebenarnya, inti keberatan saya, istri dan mungkin orang-orang di luar sana, bukan isi ceritanya. Tapi, setidaknya kita ingin mendapatkan sensasi-sensasi yang sama saat membaca buku.

 

Hal ini lah yang sangat sulit diberikan oleh film adaptasi. Pengalaman setiap orang membaca sebuah buku cerita tentu berbeda satu sama lainnya.

 

Begitu juga interpretasi dan sensasi yang dirasakan oleh sutradara dan script writer film adaptasi. Mereka tentu saja mempunyai pemahaman yang sangat berbeda dengan pembaca buku.

 

Hal ini lah yang dilakukan Salman Aristo, Ginatri S Noer dan Hanung Bramantyo saat menggarap film Ayat Ayat Cinta. Mereka punya interpretasi sendiri menerjemahkan pengalaman mereka akan Ayat Ayat Cinta ke pita seluloid.

 

Salah kah tindakan mereka? Enggak juga, sebab secara teori, saat sebuah buku telah dihasilkan, maka penulis telah mati. Buku adalah milik siapa saja dan siapa saja bebas menginterpretasikan buku tersebut. Termasuk para sutradara dan penulis scenario.

 

“Jadi kita enggak bisa mengharapkan pengalaman-pengalaman personal itu bisa kita rasakan dalam sebuah film dong,” tanya Megi kepada saya.

 

Mungkin iya, sebab film adaptasi tidak memberikan ruang bagi penonton untuk menginterpretasikan kembali jalan cerita. Sebab, semua orang sudah mempunyai interpretasi masing-masing. Dari sini lah, perbandingan-perbandingan tersebut tidak akan pernah usai.

 

Jalan terbaik bagi saya mungkin adalah menonton film adaptasi yang memang belum pernah saya baca bukunya. Seperti Lord of the Ring, yang justru saya enggak pernah menyentuh buku cerita karangan Tolkien itu.

Musician Agent of Change

Kemarin, ketika Cokelat datang ke kantor, ada komentar menarik dari Ronny, bassis grup musik asal Bandung ini. “Saya yakin dibanding para politikus itu, musisi justru lebih sering turun ke masyarakat,” katanya.

 

Ia mencontohkan, setiap kali Cokelat mengadakan tur keliling nusantara, mereka benar-benar langsung melihat dan merasakan betul apa yang terjadi di masyarakat.  “Setiap kali kita ketemu kita melihat bagaimana keadaan masyarakat itu sekarang. Kita juga mendengarkan apa yang mereka keluhkan,” katanya.

 

Ronny memang kebingungan, sebab ia tidak bisa melakukan apa-apa layaknya pejabat negara. Tapi, ia dan teman-temannya di Cokelat merasa perlu untuk menyuarakan keinginan masyarakat Indonesia dalam setiap lagu mereka.

 

Makanya, sampai saat ini Ronny berjanji Cokelat tidak akan pernah menghilangkan nuansa nasionalisme mereka setiap kali menciptakan lagu.

 

Saya memang tertegun mendengar perkataan Ronny. Dibanding personel Cokelat lainnya, saya pikir dia sangat vokal, kritis dan mempunyai cara pandang politik yang mumpuni.

 

Tapi yang jadi perhatian saya bukan pada kritisnya bassis Cokelat ini, tapi komentar Ronny yang tersirat menyatakan bahwa musisi memang punya peranan penting dalam masyarakat.

 

Saya memang setuju dengan pendapat itu, sebagai salah satu unsur dari seni budaya, musisi punya peranan yang sangat strategis  bagi masyarakat. Kehadiran mereka bisa jadi penyambung lidah dan corong suara rakyat.

 

Kita pernah ingat, di jaman-jaman kemerdekaan, musisi hadir untuk membarakan semangat perjuangan. Di era kepimpinan Soekarno, para musisi hadir guna menyuarakan kebebasan. Di era Soeharto, musisi hadir memperjuangkan hak-hak orang miskin dan terpinggirkan.

 

Setiap era mempunyai tokohnya masing-masing. Saya tidak perlu menyebutkan namanya, karena memang semua orang pasti bisa mengingat pahlawan mereka masing-masing yang mereka nyanyikan lagunya dan ditiru pola pikirnya.

 

 

Di luar negeri hal yang sama juga terjadi. Musisi-musisi besar yang ada tidak pernah lupa menciptakan lagu yang sarat kritik sosial. John “Working Class Hero” Lennon pun rela jadi martir demi misi suci.

 

Di Indonesia, saat ini, kala mahasiswa dibungkam karena tuduhan anarkisme setiap menyuarakan pendapatnya, mungkin sudah saatnya bagi para musisi mengatur barisan. Saat toa-toa mahasiswa tidak berguna, microphone mereka diharapkan mampu mengetuk pintu istana.

 

Masalahnya, sejauh mana peran ini bisa diharapkan ketika lagu-lagu yang ada justru hanya bertemakan perselingkuhan?

 

Motif?

 

Seiring pengumuman kenaikan BBM, pemerintah juga memberikan himbauan lain. Mereka mengharapkan pengusaha memberikan kebijakan baru kepada karyawannya agar mampu bertahan dari cobaan ini.

 

Namun, himbauan itu tidak berhenti di titik itu saja. Selanjutnya mereka mengaku tidak mampu memaksa himbauan tersebut kepada pengusaha.

 

Ketidakberdayaan itu bukan tanpa sebab. Pemerintah meyakini bahwa perusahaan mempunyai kebijakan khusus bagi karyawannya. Jadi, ada perubahan atau tidak itu tergantung dari motivasi perusahaan.

 

Perubahan akan terjadi,  jika selain mencari keuntungan ekonomis, perusahaan tersebut juga berusaha melindungi daya beli karyawan. Hal ini wajar, sebab karyawan memang mempunyai hak untuk dilindungi daya belinya mengingat mereka telah memberikan nilai lebih kepada perusahaan.

 

Sementara itu, jika perusahaan hanya bekerja berdasarkan motivasi cari untung, perubahan sama sekali tidak akan pernah terjadi. Segala bentuk perubahan kebijakan akan dianggap sebagai kerugian yang akan mencederai pendapatan.

 

Padahal, yang perlu disadari di sini, melindungi daya beli karyawan, tidak hanya dilakukan dengan cara meningkatkan pendapatan. Banyak cara bisa dilakukan agar kemampuan daya beli ini bisa bertahan.

 

Di kantor istri saya, semalam setelah pengumuman kenaikan BBM, para pimpinan di sana langsung menggelar rapat. Ketika rapat selesai ditemukan keputusan bahwa mereka akan memberikan jatah makan siang kepada karyawan.

 

Mereka mengharapkan karyawan tidak lagi mengeluarkan biaya pribadi untuk keperluan makan siang. Jadinya, uang makan pribadi itu bisa dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan lain.

 

Kebijakan itu memang terlihat biasa saja. Tapi, di situ terlihat bahwa mereka mempunyai hasrat yang tinggi untuk melindungi kemampuan daya beli karyawan dan yang lebih penting berusaha menjaga kesejahteraan karyawan.

 

Jadi, kenaikan BBM bisa jadi salah satu cara paling efektif untuk mengetahui motivasi perusahaan kepada Anda?

 

Got Busy?

Sometimes shit happens. Shit happens for a reason. Ameeennn

Bioskop oh Bioskop

Dulu, ketika tahun 1999-an, bapak saya berhenti mengajak saja nonton bioskop. Waktu itu, ia prihatin dengan judul-judul film yang makin amburadul. Dia, menurut saya,   tidak akan rela melihat anaknya curi-curi pandang ke paha Malvin Shayna, Kiki Fatmala hingga Febby Lawrence. Apalagi, melihat adegan panas yang disajikan di film tersebut.

Sekarang, di awal tahun 2008, fenomena ini hampir terulang lagi. Meski judulnya tak segahar, trilogi Gadis Metropolis, tapi eksploitasi simbol-simbol seksual jelas-jelas terasa.Yup, film yang mengumbar tema seksual memang sudah datang lagi menggantikan trend hantu-hantuan.

Berbekal wajah-wajah tampan dan kenes-kenes dan balutan teknologi yang lebih mapan, film ini jelas lebih mengkhawatirkan ketimbang pocong-pocong sialan atau film mesum jaman dulu. Sebab, segmennya sudah nyata atawa jelas, anak-anak muda yang tengah penasaran dan dilanda birahi.

Hal ini memang tidak pernah diprediksikan sebelumnya. Sebab, meski dihajar oleh film-film hantu, dunia film Indonesia cukup telaten dalam berkreasi. Hanya saja kesuksesan Quickie Express memang memunculkan efek domino.

Para pengusaha film mulai menyadari, selain iblis, ternyata godaan iblis manusia berupa hawa nafsu justru jauh lebih menguntungkan. Keyakinan mereka, tinggal dibungkus komedi, film ini bisa lolos sensor dan bisa diterima masyarakat.

Selain itu, mereka juga berkaca di Amerika, American Pie sangat digemari oleh masyarakat karena kekenesan mereka dalam bermain-main tema seks. Jika film seperti ini digemari, kenapa tidak kita buat saja yang sama, daripada dikritik main hantu terus, mungkin itu pikir mereka.

Makanya, saat ini sudah banyak film jenis secara beruntun beredar di bioskop. Setelah Quickie, ada Kawin Kontrak, XL, Drop Out dan kemudian baru-baru ini adalah ML (Indika Entertainment), Namaku DICK (MD ENtertainment), dan Big Size Mas (Inters Media).

Dua film yang disebut terakhir ini bahkan sudah gagah memampangkan posternya di Megaria. Lengkap dengan pose wanita-wanita yang bisa menstimulir hormon testosteron.  

Mungkin saya terlalu kolot, mungkin dibilang munafik, karena tidak suka dengan film ini. Tapi, lebih baik saya dibilang munafik, ketimbang anak-anak Indonesia lainnya justru berhenti diajak ke bioskop gara-gara film seperti ini.

 

 

 

April Keblinger

2008-april-print.jpg

Tadi malam, di atas motor butut, istri saya mengungkapkan kekecewaannya pada saya.

“Wa (bukan Siwa, tapi kependekan Wahyu), besok aku enggak bisa April Mop-an di kantor aku. Ada satu pimpinan kantor yang bilang kita enggak boleh ngelakuinnya,” katanya serius.

Mendengar kekecewaan tersebut, saya hanya diam saja. Bayangan dalam otak saya justru langsung berpindah ke sebuah berita yang marak beredar di internet menjelang bulan April ini. Kalau tidak salah isinya mengatakan umat Islam tidak pantas merayakan April Mop.

Belum selesai bayangan di dalam otak, istri saya langsung menyambung perkataannya.

“Padahal kan gue udah siap-siap buat ngerjain temen-temen gue Wa,” ucapnya sedih.

Setelah ungkapan kekecewaannya selesai, saya pun langsung sedikit memberikan komentar.

“Pasti karena ada berita soal pembantaian dan penipuan terhadap umat Islam di Granada waktu bulan April yah,” kata saya.

“Lho kok tahu. Emang bener soal itu yah Wa?” tanya istri saya makin penasaran.

Karena masih dalam perjalanan pulang dan ada di atas motor, saya enggan berkomentar banyak. Saya hanya mengatakan akan menjelaskannya setelah tiba di rumah.

Waktu di rumah, saya tidak mau mempermasalahkan benar atau tidaknya berita tersebut. Saya hanya mengatakan pada istri saya, di internet, semua berita perlu disikapi dengan cerdas.

Kenapa? Sebab, semua orang bisa melemparkan berita. Baik itu sesuai dengan fakta sejarah, atau pun sarat dengan muatan tertentu. Baik itu negatif atau positif.

“Jadi, kalau mau tahu benar atau tidaknya penipuan dan pembataian itu. Mungkin kamu cek langsung ke sumber-sumber lainnya. Jangan langsung diterima mentah-mentah,” kata saya.

Mendengar jawaban itu, istri saya malah makin bingung lagi. Lha wong, dia kebingungan kenapa kantornya melarang April Mop, malah saya suruh untuk cari kebenaran soal pembantaian dan penipuan.

“Lho, masalahnya aku emang enggak tahu soal bener atau tidaknya pembantaian itu. Aku hanya bingung aja kok, tiba-tiba ada yang marah-marah sambil melarang kita ngelakuin April Mop,” kata Istri saya lagi.

Mendengar komentar tersebut, saya langsung pusing tujuh keliling. Dalam hati saya berpikir, lha iya yah, kenapa sih ada orang yang bisa nekat menelan berita yang nyebar di internet, tapi belum diketahui kebenarannya. Apalagi, sampai menyikapinya dengan emosi plus melarang-larang orang melakukannya.

“Yah udah, enggak usah April Mop-an. Besok April keblinger aja, biar agak ngeNdonesia. Pasti dia enggak marah,” kata saya mengakhiri.

Julukan Baru

Istri saya selalu punya julukan baru buat saya. Dari yang biasa saja, hingga yang aneh-aneh. Terakhir, ia memanggil saya dengan sebutan, Dewa Siwa.

Kenapa? Sebab, berbeda dengan Raja Midas, semua barang yang saya sentuh, ujung-ujungnya selalu rusak. Contohnya, kemarin istri saya baru saja membeli penutup makanan dari kain.

Baru sehari dibeli, barang itu justru rusak oleh saya. Gara-gara mencoba membuka paksa, penutup itu hampir tidak berfungsi dengan baik. Untungnya, istri saya berhasil memperbaikinya lagi.

“Dasar kamu emang Dewa Siwa, apa saja selalu rusak. Kenapa sih enggak pernah barangnya jadi bagus kalau kamu pegang,” kata istri saya setengah meledek, setengah serius.

Sebenarnya, kalau dia kesal memang wajar-wajar saja. Sebab, bukan kali itu aja barang di rumah berhasil saya rusakkan.

Dulu, ada sebuah  M-DISK (MP3 Player), yang hanya bertahan dua jam dalam kondisi mulus. Sebab, setelah itu, saya merusakkan, earphone-nya. Dan baru bulan kemarin, MP3 Player tersebut, rusak dengan sempurna. Juga karena saya.

Barang lainnya, adalah Handphone milik istri saya. Dulu, ketika dipegang istri saya, ponsel tersebut masih dalam keadaan bagus dan mulus. Tapi, setelah berpindah tangan, tiba-tiba saja speaker telepon tersebut tidak berfungsi dengan baik.

Masalahnya, kerusakan itu terjadi, justru ketika handphone itu mau dijual.

“Lho, kok jadi begini. Kenapa bisa begini yah Wa. Kayaknya baru hari ini ada masalah kayak gini. Sebelumnya enggak lho,” kata istri saya kepada pemilik toko ponsel.

Saya yang waktu itu mengantar hanya bisa mesem-mesem saja. Tentunya, saya yakin istri saya pasti sudah curiga sama saya. Tapi dia tidak mau bertanya karena memang tidak mau marah-marah sama saya di depan umum.

Tapi, begitu sudah di rumah, dia pun langsung menginterogasi saya. Sebenarnya, saya sendiri heran, kenapa sih saya tidak bisa menjaga barang dengan baik.

Seberapa pun kuatnya saya mempunyai niat, tetap saja barang-barang yang saya punyai pasti ancur. Terakhir, ada barang yang justru nyatanya enggan saya miliki, yakni sebuah jam Brietling (KW1, enggak mampu beli yang asli).

Jam itu dibelikan kakak saya buat saya. Tapi, begitu saya pakai, jam itu justru tidak berfungsi. Lucunya, begitu dipakai orang lain, baru bisa jalan dengan baik. Alhasil, saya cuma bisa geleng-geleng kepala saja.

Mungkin, saya memang  tidak cocok punya barang-barang bagus.

Blog Jalan Baru Jadi Penulis Terkenal

blogging.gif

Apa untungnya jadi blogger? Percaya atau tidak, blogger ternyata merupakan jalan untuk jadi penulis terkenal.  Di Indonesia, sebagian blogger, memang sudah lebih dulu terkenal sebagai penulis.

Beberapa di antaranya, Fira Basuki (firabas.multiply.com) dan Adhitya Mulya (www.suamigila.com).  Tapi, ada juga yang justru meneken kontrak jadi penulis buku karena blog yang mereka miliki sangat diminati orang. Contohnya, Raditya Dika (www.radityadika.com). Berkat blog-nya yang dulu bernama kambing jantan, Dika sangat digemari anak-anak muda. 

Melihat potensi itu, tidak heran jika Dika langsung digaet salah satu penerbit untuk membuat buku. Saat ini, ia telah menghasilkan tiga buku yakni Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus dan Bukan Binatang Biasa.  

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di luar negeri, para penerbit buku justru berlomba-lomba untuk menggaet blogger terkenal untuk tanda tangan kontrak. Bahkan, tidak seperti di Indonesia, blogger-blogger yang mempunyai tulisan yang sensitif juga sangat dicari.  

Di Amerika, baru-baru ini pemilik blog stuffwhitepeoplelike.wordpress.com, Christian Lander dikontrak oleh penerbit buku, Random House. Padahal, blog milik Lander justru tengah jadi isu nasional, bahkan sempat dibahas oleh stasiun televisi NPR dalam program Talk of the Nation.  Dalam acara itu dibahas apakah blog milik Lander ini hanya candaan yang menyentil atau justru rasis.

Terlepas rasis atau tidak, nilai kontrak yang diterima oleh Lander justru sangat membelalakkan mata.  Bayangkan, untuk mengambil semua isi tulisan Lander di stuffwhitepeoplelike, Random House harus menggelontorkan uang USD300 ribu atau senilai Rp2,7 miliar.

Melihat jumlah uang tersebut, tidak heran jika banyak blogger langsung keheranan. Sebab, jumlah tersebut bisa jadi jumlah uang paling tinggi yang pernah diterima seorang blogger untuk jadi penulis.  “Saya benar-benar kaget sekaligus kagum. Jumlah itu melebih jumlah uang yang diterima Martin Mull di tahun 1985,” kata Ron Hogan, blogger penulis buku GalleyCat.

Martin Mull sendiri adalah penulis buku yang hampir sama dengan tulisan Lander, berjudul The History of White People in America.  Berdasarkan pengalaman Lander, para blogger jadi semakin yakin, aktivitas mereka di dunia maya, memang bukan hanya kegiatan yang tidak menguntungkan. Sebab, sepanjang sejarahnya, blogger memang ditakdirkan untuk jadi penulis buku “betulan”.

Tradisi mencari blogger jadi penulis memang sudah terjadi empat tahun belakangan ini di Amerika. Tahun 2003, majalah New Yorker menulis laporan berjudul “Books by bloggers will be a trend, a cultural phenomenon.” Di dalam laporan tersebut, diceritakan aktivitas Kate Lee, asisten penerbitan buku International Creative Management, yang berusaha mencari para blogger yang bersedia menjadikan isi blog mereka jadi sebuah buku.  

Lima tahun setelah itu, laporan tersebut memang jadi kenyataan. Saat ini saja, di Amerika sudah puluhan buku yang diterbitkan oleh para blogger. Sebagian ada yang mengopi mentah-mentah isi blog tersebut, sebagian lagi menulis tema baru.

Tulisan yang menarik memang jadi alasan utama kenapa blog tersebut banyak diminta dijadikan buku oleh penerbit. Namun, keuntungan ekonomis selalu jadi patokan.  Meski telah mengeluarkan uang miliaran rupiah, mereka tetap yakin buku yang diterbitkan bakal laris.

Hal itu didasarkan pada pertimbangan jumlah hits yang diraih blog-blog yang mereka pilih. Contohnya, stuffwhitepeoplelike.wordpress.com setiap harinya bisa mencapai 2 juta hits per hari.  Bahkan, isinya sempat jadi isu nasional dan dibahas oleh stasiun televisi di Amerika.  

“Jika memang berhasil mencuri perhatian jutaan pengguna internet. Bisa jadi, keuntungan yang didapat dengan menerbitkan buku ini akan mencapai jutaan juga,” kata Kate McKean, dari penerbit Howard Morhaim Literary Agency.  

Di Indonesia, keuntungan dan peluang yang sama memang sudah terbuka sejak dua tahun lalu. Raditya Dika, buktinya, saat ini dia berhasil menulis tiga buku dan buku pertama adalah tulisan dari blog-nya sendiri. Jadi, bagi para blogger, keep on writing.

Next Page »