Istri saya marah-marah ketika nonton film P.S I Love U. Dia bilang filmnya benar-benar enggak sama dengan buku. Nah lho?
“Bukan hanya enggak sama, tapi banyak isi cerita yang menurut gue sangat emosional justru enggak ada di film,” katanya sambil melotot ke arah saya.
Kemarahannya belum usai setelah film selesai. Lagi-lagi ia bilang semua perasaan yang ia dapat saat membaca buku, sama sekali tidak ia rasakan ketika nonton film yang diperani Gerrard Butler dan Hillary Swank itu.
“Pokoknya, kamu harus beli DVD yang asli, enggak yang bajakan. Kali aja perasaannya bisa beda,” lagi-lagi kata istri saya seolah mencari kambing hitam kekesalannya.
Sebenarnya, perasaan yang sama pernah saya alami juga. Saya benar-benar kecewa ketika menonton film Kite Runner. Sebelum menonton, ekspektasi saya film ini cukup tinggi. Sebab, teman saya dan IMDB mereview positif film ini.
Hasilnya, setelah menonton, saya benar-benar kecewa. Sedikit sebenarnya, tapi ada satu hal yang membuat saya sedikit cemberut gara-gara film ini.
Yup, saya tidak mendapatkan pengalaman-pengalaman sensasional saat membaca buku. Film yang digarap Marc Foster ini tidak berhasil mengantarkan perasaan yang sama saat saya membaca buku Khaled Hoseini ini.
“Iya lah mas, jangan disamain buku dengan film,” kata Novi, teman saya di kantor saat berdiskusi masalah ini.
Apa yang dikatakan Novi memang benar. Sedari dulu hingga sekarang, film dan buku adalah media yang berbeda. Film tidak bisa membeberkan semua isi cerita yang ada di buku. Contohnya, Kite Runner, yang benar-benar memotong habis bagian yang teramat penting di buku tersebut.
Sebenarnya, inti keberatan saya, istri dan mungkin orang-orang di luar sana, bukan isi ceritanya. Tapi, setidaknya kita ingin mendapatkan sensasi-sensasi yang sama saat membaca buku.
Hal ini lah yang sangat sulit diberikan oleh film adaptasi. Pengalaman setiap orang membaca sebuah buku cerita tentu berbeda satu sama lainnya.
Begitu juga interpretasi dan sensasi yang dirasakan oleh sutradara dan script writer film adaptasi. Mereka tentu saja mempunyai pemahaman yang sangat berbeda dengan pembaca buku.
Hal ini lah yang dilakukan Salman Aristo, Ginatri S Noer dan Hanung Bramantyo saat menggarap film Ayat Ayat Cinta. Mereka punya interpretasi sendiri menerjemahkan pengalaman mereka akan Ayat Ayat Cinta ke pita seluloid.
Salah kah tindakan mereka? Enggak juga, sebab secara teori, saat sebuah buku telah dihasilkan, maka penulis telah mati. Buku adalah milik siapa saja dan siapa saja bebas menginterpretasikan buku tersebut. Termasuk para sutradara dan penulis scenario.
“Jadi kita enggak bisa mengharapkan pengalaman-pengalaman personal itu bisa kita rasakan dalam sebuah film dong,” tanya Megi kepada saya.
Mungkin iya, sebab film adaptasi tidak memberikan ruang bagi penonton untuk menginterpretasikan kembali jalan cerita. Sebab, semua orang sudah mempunyai interpretasi masing-masing. Dari sini lah, perbandingan-perbandingan tersebut tidak akan pernah usai.
Jalan terbaik bagi saya mungkin adalah menonton film adaptasi yang memang belum pernah saya baca bukunya. Seperti Lord of the Ring, yang justru saya enggak pernah menyentuh buku cerita karangan Tolkien itu.
Justru permasalahannnya semua mau nya instant,padahalkan yang bener padat & berisi,klo PS : I love You versi Film gw gak suka krn emosi yang dihantarkan emang gak sesuai,gak bisa kelihatan step by step pemulihan diri,film itu cuma mngemas instan,layaknya memasak mie instan yang cukup perlu 3 menit utk matang dan bukan memasak gulai yang perlu waktu lebih utk mnghasilkan sesuatu yang lebih istimewa ….