Kemarin, ketika Cokelat datang ke kantor, ada komentar menarik dari Ronny, bassis grup musik asal Bandung ini. “Saya yakin dibanding para politikus itu, musisi justru lebih sering turun ke masyarakat,” katanya.
Ia mencontohkan, setiap kali Cokelat mengadakan tur keliling nusantara, mereka benar-benar langsung melihat dan merasakan betul apa yang terjadi di masyarakat. “Setiap kali kita ketemu kita melihat bagaimana keadaan masyarakat itu sekarang. Kita juga mendengarkan apa yang mereka keluhkan,” katanya.
Ronny memang kebingungan, sebab ia tidak bisa melakukan apa-apa layaknya pejabat negara. Tapi, ia dan teman-temannya di Cokelat merasa perlu untuk menyuarakan keinginan masyarakat Indonesia dalam setiap lagu mereka.
Makanya, sampai saat ini Ronny berjanji Cokelat tidak akan pernah menghilangkan nuansa nasionalisme mereka setiap kali menciptakan lagu.
Saya memang tertegun mendengar perkataan Ronny. Dibanding personel Cokelat lainnya, saya pikir dia sangat vokal, kritis dan mempunyai cara pandang politik yang mumpuni.
Tapi yang jadi perhatian saya bukan pada kritisnya bassis Cokelat ini, tapi komentar Ronny yang tersirat menyatakan bahwa musisi memang punya peranan penting dalam masyarakat.
Saya memang setuju dengan pendapat itu, sebagai salah satu unsur dari seni budaya, musisi punya peranan yang sangat strategis bagi masyarakat. Kehadiran mereka bisa jadi penyambung lidah dan corong suara rakyat.
Kita pernah ingat, di jaman-jaman kemerdekaan, musisi hadir untuk membarakan semangat perjuangan. Di era kepimpinan Soekarno, para musisi hadir guna menyuarakan kebebasan. Di era Soeharto, musisi hadir memperjuangkan hak-hak orang miskin dan terpinggirkan.
Setiap era mempunyai tokohnya masing-masing. Saya tidak perlu menyebutkan namanya, karena memang semua orang pasti bisa mengingat pahlawan mereka masing-masing yang mereka nyanyikan lagunya dan ditiru pola pikirnya.
Di luar negeri hal yang sama juga terjadi. Musisi-musisi besar yang ada tidak pernah lupa menciptakan lagu yang sarat kritik sosial. John “Working Class Hero” Lennon pun rela jadi martir demi misi suci.
Di Indonesia, saat ini, kala mahasiswa dibungkam karena tuduhan anarkisme setiap menyuarakan pendapatnya, mungkin sudah saatnya bagi para musisi mengatur barisan. Saat toa-toa mahasiswa tidak berguna, microphone mereka diharapkan mampu mengetuk pintu istana.
Masalahnya, sejauh mana peran ini bisa diharapkan ketika lagu-lagu yang ada justru hanya bertemakan perselingkuhan?
jadi lagu “termiskin didunia” pas dong buat rakyat kita sekarang ini … ?