Bioskop oh Bioskop

Dulu, ketika tahun 1999-an, bapak saya berhenti mengajak saja nonton bioskop. Waktu itu, ia prihatin dengan judul-judul film yang makin amburadul. Dia, menurut saya,   tidak akan rela melihat anaknya curi-curi pandang ke paha Malvin Shayna, Kiki Fatmala hingga Febby Lawrence. Apalagi, melihat adegan panas yang disajikan di film tersebut.

Sekarang, di awal tahun 2008, fenomena ini hampir terulang lagi. Meski judulnya tak segahar, trilogi Gadis Metropolis, tapi eksploitasi simbol-simbol seksual jelas-jelas terasa.Yup, film yang mengumbar tema seksual memang sudah datang lagi menggantikan trend hantu-hantuan.

Berbekal wajah-wajah tampan dan kenes-kenes dan balutan teknologi yang lebih mapan, film ini jelas lebih mengkhawatirkan ketimbang pocong-pocong sialan atau film mesum jaman dulu. Sebab, segmennya sudah nyata atawa jelas, anak-anak muda yang tengah penasaran dan dilanda birahi.

Hal ini memang tidak pernah diprediksikan sebelumnya. Sebab, meski dihajar oleh film-film hantu, dunia film Indonesia cukup telaten dalam berkreasi. Hanya saja kesuksesan Quickie Express memang memunculkan efek domino.

Para pengusaha film mulai menyadari, selain iblis, ternyata godaan iblis manusia berupa hawa nafsu justru jauh lebih menguntungkan. Keyakinan mereka, tinggal dibungkus komedi, film ini bisa lolos sensor dan bisa diterima masyarakat.

Selain itu, mereka juga berkaca di Amerika, American Pie sangat digemari oleh masyarakat karena kekenesan mereka dalam bermain-main tema seks. Jika film seperti ini digemari, kenapa tidak kita buat saja yang sama, daripada dikritik main hantu terus, mungkin itu pikir mereka.

Makanya, saat ini sudah banyak film jenis secara beruntun beredar di bioskop. Setelah Quickie, ada Kawin Kontrak, XL, Drop Out dan kemudian baru-baru ini adalah ML (Indika Entertainment), Namaku DICK (MD ENtertainment), dan Big Size Mas (Inters Media).

Dua film yang disebut terakhir ini bahkan sudah gagah memampangkan posternya di Megaria. Lengkap dengan pose wanita-wanita yang bisa menstimulir hormon testosteron.  

Mungkin saya terlalu kolot, mungkin dibilang munafik, karena tidak suka dengan film ini. Tapi, lebih baik saya dibilang munafik, ketimbang anak-anak Indonesia lainnya justru berhenti diajak ke bioskop gara-gara film seperti ini.

 

 

 

3 Responses to “Bioskop oh Bioskop”


  1. 1 cintajoan May 6, 2008 at 3:44 pm

    yah wahyu dan saya akan berusaha menyelamatkan bangsa ini…
    lhoooo
    maksud saya, menyelamatkan dengan resensi ‘jujur’ agar pembaca tidak tersesat!!!
    ah pasti gue tidak seheroik itu…

  2. 2 Bapak'e Nok'e May 30, 2008 at 4:19 am

    Masih ada pilem-pilem indonesia yang bagus dan bermutu yang laku untuk dijual kok.

  3. 3 mightylesthi July 5, 2008 at 1:52 pm

    ada lagi wahyuuu…judulnya Tri Mas Getir sama Kamu Puas Saya Loyo (ini kalo nggak salah nulis loo)


Leave a Reply