Tadi malam, di atas motor butut, istri saya mengungkapkan kekecewaannya pada saya.
“Wa (bukan Siwa, tapi kependekan Wahyu), besok aku enggak bisa April Mop-an di kantor aku. Ada satu pimpinan kantor yang bilang kita enggak boleh ngelakuinnya,” katanya serius.
Mendengar kekecewaan tersebut, saya hanya diam saja. Bayangan dalam otak saya justru langsung berpindah ke sebuah berita yang marak beredar di internet menjelang bulan April ini. Kalau tidak salah isinya mengatakan umat Islam tidak pantas merayakan April Mop.
Belum selesai bayangan di dalam otak, istri saya langsung menyambung perkataannya.
“Padahal kan gue udah siap-siap buat ngerjain temen-temen gue Wa,” ucapnya sedih.
Setelah ungkapan kekecewaannya selesai, saya pun langsung sedikit memberikan komentar.
“Pasti karena ada berita soal pembantaian dan penipuan terhadap umat Islam di Granada waktu bulan April yah,” kata saya.
“Lho kok tahu. Emang bener soal itu yah Wa?” tanya istri saya makin penasaran.
Karena masih dalam perjalanan pulang dan ada di atas motor, saya enggan berkomentar banyak. Saya hanya mengatakan akan menjelaskannya setelah tiba di rumah.
Waktu di rumah, saya tidak mau mempermasalahkan benar atau tidaknya berita tersebut. Saya hanya mengatakan pada istri saya, di internet, semua berita perlu disikapi dengan cerdas.
Kenapa? Sebab, semua orang bisa melemparkan berita. Baik itu sesuai dengan fakta sejarah, atau pun sarat dengan muatan tertentu. Baik itu negatif atau positif.
“Jadi, kalau mau tahu benar atau tidaknya penipuan dan pembataian itu. Mungkin kamu cek langsung ke sumber-sumber lainnya. Jangan langsung diterima mentah-mentah,” kata saya.
Mendengar jawaban itu, istri saya malah makin bingung lagi. Lha wong, dia kebingungan kenapa kantornya melarang April Mop, malah saya suruh untuk cari kebenaran soal pembantaian dan penipuan.
“Lho, masalahnya aku emang enggak tahu soal bener atau tidaknya pembantaian itu. Aku hanya bingung aja kok, tiba-tiba ada yang marah-marah sambil melarang kita ngelakuin April Mop,” kata Istri saya lagi.
Mendengar komentar tersebut, saya langsung pusing tujuh keliling. Dalam hati saya berpikir, lha iya yah, kenapa sih ada orang yang bisa nekat menelan berita yang nyebar di internet, tapi belum diketahui kebenarannya. Apalagi, sampai menyikapinya dengan emosi plus melarang-larang orang melakukannya.
“Yah udah, enggak usah April Mop-an. Besok April keblinger aja, biar agak ngeNdonesia. Pasti dia enggak marah,” kata saya mengakhiri.
0 Responses to “April Keblinger”